Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) menunjukkan, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sebesar Rp17.514 pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026).
Nilai tukar itu melemahkan rupiah hingga 0,56% dibanding penutupan perdagangan pada hari sebelumnya. Level ini jadi rekor terburuk sepanjang sejarah.
Melansir Katadata, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyiapkan langkah intervensi di pasar obligasi melalui instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) dalam merespons anjloknya nilai tukar rupiah.
Purbaya mengatakan, pemerintah akan mulai masuk ke pasar obligasi untuk menjaga agar imbal hasil (yield) surat utang negara tidak naik terlalu tinggi. Langkah itu dilakukan untuk membantu Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar.
“Besok mungkin kita akan mulai membantu dengan masuk ke bond market,” kata Purbaya di kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).
(Baca: 48% Warga Global Prediksi Negaranya Resesi pada 2026, Termasuk RI)
Menurutnya, kenaikan yield atau imbal hasil obligasi yang terlalu tinggi berpotensi memicu keluarnya investor asing dari pasar keuangan domestik karena mengalami kerugian nilai investasi (capital loss).
Jika arus keluar modal terjadi besar-besaran, tekanan terhadap rupiah dapat semakin meningkat.
“Kita intervensi bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi. Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar,” kata dia.
Meski begitu, ia menegaskan tugas utama menjaga stabilitas nilai tukar tetap berada di tangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.
Purbaya memastikan, pelemahan rupiah masih dalam batas yang dapat ditangani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia mengungkapkan, pemerintah sebenarnya telah menggunakan asumsi kurs yang lebih tinggi dibandingkan asumsi resmi APBN dalam sejumlah perhitungan internal.
(Baca Katadata oleh Ade Rosman: Rupiah Tembus Rp 17.500, Purbaya Aktifkan Bond Stabilization Fund)