KLHK Deteksi 169 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Kalimantan Timur (Senin, 11 Mei 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 169 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 16 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Senin (11/5/2026) pukul 11.34 WIB. Dari 169 titik panas terdeteksi, 167 titik skala sedang dan 2 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: NTT Selalu Dilanda Karhutla 10 Tahun Terakhir, BMKG Imbau Tingkatkan Kesiagaan)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 24 titik. Sumatera Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 20 titik. Nusa Tenggara Timur berada di posisi ketiga sebanyak 19 titik panas.
Sebanyak 16 titik panas terdeteksi di Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur menyusul dengan 10 titik panas, serta Maluku Utara dan Kalimantan Barat masing-masing memiliki 10 dan 8 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: 5 Provinsi dengan Titik Panas Karhutla di Ekosistem Gambut Terbanyak sampai Agustus 2025)