Kementerian LHK: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 760 Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 10 Oktober 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 760 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 493 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (10/10/2025) pukul 11.53 WIB. Dari 760 titik panas terdeteksi, 22 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 680 titik skala sedang, dan 58 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: 10 Provinsi Paling Banyak Dilanda Banjir pada 2024)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Tengah sebanyak 123 titik. Nusa Tenggara Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 69 titik. Sumatera Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 51 titik panas.
Sebanyak 48 titik panas terdeteksi di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah menyusul dengan 46 titik panas, serta Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur masing-masing memiliki 45 dan 43 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Banjir Masih Jadi Bencana Terbanyak di Indonesia hingga Maret 2025 )