Kementerian LHK Deteksi 2.173 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Nusa Tenggara Timur (Jumat, 3 Oktober 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 2.173 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 869 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (3/10/2025) pukul 11.53 WIB. Dari 2.173 titik panas terdeteksi, 38 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 1788 titik skala sedang, dan 347 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 660 titik. Kalimantan Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 304 titik. Nusa Tenggara Barat berada di posisi ketiga sebanyak 303 titik panas.
Sebanyak 189 titik panas terdeteksi di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah menyusul dengan 183 titik panas, serta Sulawesi Tenggara dan Kalimantan Tengah masing-masing memiliki 138 dan 73 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Ada 1,7 Ribu Bencana Alam di Indonesia hingga Awal Juni 2023, Mayoritas Banjir)