753 Hotspot Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 3 Juli 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 753 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 101 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (3/7/2026) pukul 11.53 WIB. Dari 753 titik panas terdeteksi, 21 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 711 titik skala sedang, dan 21 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Akibat Karhutla, ISPA Kalimantan Selatan Capai 189 Ribu Kasus per September 2023)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 73 titik. Sulawesi Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 65 titik. Sulawesi Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 64 titik panas.
Sebanyak 59 titik panas terdeteksi di Papua Selatan, Jawa Timur menyusul dengan 57 titik panas, serta Sumatera Selatan dan Sulawesi Tenggara masing-masing memiliki 48 dan 46 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Titik Panas Karhutla di Sumsel Bertambah pada Pertengahan Oktober 2023)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Jun) | 3,34% | +0.26 | |
| Inflasi mom (Jun) | 0,44% | +0.16 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Des) | 7,50% | -0.75 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.968 | -0.06 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Neraca perdagangan (Mei) | -1,61 | -1,907.18 | |
| Ekspor Migas (Apr) | 1,16 | -9.81 | |
| Impor Migas (Mei) | 4,51 | -1.82 | |
| Ekspor (Apr) | 25,30 | +12.32 | |
| Impor (Mei) | 24,81 | -1.59 | |
| Kunjungan Wisman (Apr) | 1,25 | +14.75 | |
| NTP (Jun) | 114,65 | +0.76 |