8.973 Titik Panas Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Selasa, 20 Oktober 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 8.973 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 11419 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Selasa (20/10/2026) pukul 11.51 WIB. Dari 8.973 titik panas terdeteksi, 520 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 7965 titik skala sedang, dan 488 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 584 Orang (Jumat, 28 Agustus 2026))
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Tengah sebanyak 1221 titik. Sumatera Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 1053 titik. Kalimantan Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 837 titik panas.
Sebanyak 807 titik panas terdeteksi di Jawa Timur, Papua Selatan menyusul dengan 729 titik panas, serta Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan masing-masing memiliki 572 dan 551 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Banjir dan Karhutla, Bencana Terbanyak di Indonesia Sepanjang 2025)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.998 | -0.28 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |