KLHK Temukan 933 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Kalimantan Timur (Minggu, 19 Oktober 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 933 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 389 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Minggu (19/10/2025) pukul 11.53 WIB. Dari 933 titik panas terdeteksi, 29 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 842 titik skala sedang, dan 62 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Bukan Jakarta, Inilah Daerah dengan Kualitas Udara Terburuk di Indonesia (Rabu, 7 Juni 2023))
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 210 titik. Sulawesi Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 129 titik. Nusa Tenggara Barat berada di posisi ketiga sebanyak 93 titik panas.
Sebanyak 65 titik panas terdeteksi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara menyusul dengan 55 titik panas, serta Sulawesi Selatan dan Jawa Timur masing-masing memiliki 54 dan 45 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Survei Kurious: Banyak Orang Merasa Kualitas Udara Indonesia Buruk)