Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, garis kemiskinan (GK) Indonesia pada September 2025 sebesar Rp641.443 per orang per bulan.
Garis kemiskinan ini naik 5,3% dari Maret 2025, sedangkan bila dibandingkan September 2024 meningkat 7,76%.
BPS menjelaskan, garis kemiskinan merupakan nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan bukan makanan sebagai penentu kategori miskin atau tidaknya seseorang atau rumah tangga. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.
Pada September 2025, BPS mendata, komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK, baik di perkotaan maupun di perdesaan, pada umumnya hampir sama.
"Beras masih memberi sumbangan terbesar, yakni sebesar 21,10% di perkotaan dan 24,62% di perdesaan," tulis BPS dalam laporan yang dipublikasikan pada Kamis (5/2/2026).
Komoditas terbesar selanjutnya adalah rokok kretek filter yang memberikan sumbangan 10,41% di perkotaan dan 9,11% di perdesaan.
(Baca: Segini Garis Kemiskinan Kabupaten dan Kota di NTT pada 2025)
Berikut rincian kontribusi komoditas terhadap GK di Indonesia, September 2025:
- Beras
Perkotaan: 21,10%
Perdesaan: 24,62%
- Rokok kretek-filter
Perkotaan: 10,41%
Perdesaan: 9,11%
- Telur ayam ras
Perkotaan: 4,48%
Perdesaan: 3,71%
- Daging ayam ras
Perkotaan: 4,35%
Perdesaan: 3,42%
- Kopi bubuk dan instan
Perkotaan: 2,39%
Perdesaan: 2,38%
- Mi instan
Perkotaan: 2,35%
Perdesaan: 2,04%
- Kue basah
Perkotaan: 2,20%
Perdesaan: 1,99%
- Roti
Perkotaan: 2,02%
Perdesaan: 1,84%
- Bawang merah
Perkotaan: 1,92%
Perdesaan: 2,13%
- Tempe
Perkotaan: 1,78%
Perdesaan: 1,62%
- Gula pasir
Perkotaan: 1,68%
Perdesaan: 2,34%
- Tahu
Perkotaan: 1,76%
Perdesaan: (tidak ada data/tidak termasuk penyumbang GK terbesar)
- Tongkol/tuna/cakalang
Perkotaan: (tidak ada data/tidak termasuk penyumbang GK terbesar)
Perdesaan: 1,76%
- Lainnya
Perkotaan: 17,37%
Perdesaan: 19,15%.
(Baca: Persentase Penduduk Miskin di 38 Provinsi Indonesia pada September 2025)