Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase kemiskinan di Kabupaten Cianjur pada tahun 2024 sebesar 10,14 persen. Angka ini sedikit turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 10,22 persen. Dengan jumlah penduduk 2.584.735 jiwa, terdapat 239.300 jiwa penduduk miskin di Cianjur.
Secara pertumbuhan, persentase kemiskinan Cianjur mengalami penurunan sebesar 0,78 persen. Dibandingkan dengan kabupaten lain di Jawa Barat, Cianjur berada di urutan ke-237 secara nasional. Perkembangan ini menunjukkan adanya perubahan kondisi sosial ekonomi di wilayah tersebut.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Pasaman Periode 2004 - 2024)
Data historis menunjukkan fluktuasi angka kemiskinan di Cianjur. Persentase kemiskinan tertinggi terjadi pada tahun 2006, mencapai 19,81 persen. Sementara angka terendah tercatat pada tahun 2019 sebesar 9,15 persen. Pertumbuhan angka kemiskinan terendah terjadi pada tahun 2008 yaitu -16,82 persen dan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2020 sebesar 13,22 persen. Posisi Cianjur dalam urutan kemiskinan di Indonesia juga bergeser dari tahun ke tahun, menunjukkan kompleksitas penanganan masalah kemiskinan.
Jika dibandingkan dengan kabupaten tetangga di Jawa Barat, persentase kemiskinan Cianjur cukup bervariasi. Kabupaten Garut memiliki persentase kemiskinan 9,68 persen, Kabupaten Majalengka 10,82 persen, Kabupaten Subang 9,49 persen, Kabupaten Sumedang 9,1 persen, Kabupaten Tasikmalaya 10,23 persen, dan Kabupaten Bandung Barat 10,49 persen.
Kabupaten Garut
Kabupaten Garut menduduki peringkat ke-247 secara nasional dalam hal persentase kemiskinan, dengan angka 9,68 persen. Jumlah penduduk miskin di Garut mencapai 259.320 jiwa dari total populasi 2.79 juta jiwa. Garis kemiskinan di Garut tercatat sebesar Rp 393.464 per kapita per bulan. Pendapatan per kapita penduduknya sekitar Rp 29,01 juta per tahun, menunjukkan adanya tantangan ekonomi yang perlu diatasi meskipun terjadi pertumbuhan positif di wilayah tersebut. Secara pertumbuhan, Garut mengalami penurunan kemiskinan sebesar 0,45 persen.
Kabupaten Majalengka
Kabupaten Majalengka memiliki persentase kemiskinan sebesar 10,82 persen, berada di urutan ke-208 secara nasional. Jumlah penduduk miskin mencapai 134.580 jiwa dari total populasi sekitar 1.36 juta jiwa. Garis kemiskinan di Majalengka terbilang tinggi, mencapai Rp 547.912 per kapita per bulan. Pendapatan per kapita penduduknya sekitar Rp 34,23 juta per tahun. Majalengka mengalami penurunan kemiskinan sebesar 3 persen.
(Baca: Statistik Persentase Penduduk Miskin di Kota Jakarta Pusat 2016-2025)
Kabupaten Subang
Dengan persentase kemiskinan 9,49 persen, Kabupaten Subang berada di peringkat ke-254 secara nasional. Jumlah penduduk miskin mencapai 152.560 jiwa dari total populasi 1.64 juta jiwa. Garis kemiskinan di Subang adalah Rp 434.161 per kapita per bulan. Pendapatan per kapita penduduknya sekitar Rp 33,03 juta per tahun. Subang menunjukkan sedikit peningkatan dalam angka kemiskinan, dengan pertumbuhan sebesar 0,15 persen.
Kabupaten Sumedang
Kabupaten Sumedang memiliki persentase kemiskinan 9,1 persen, menempatkannya pada urutan ke-263 secara nasional. Jumlah penduduk miskin di Sumedang adalah 108.890 jiwa dari total populasi 1.21 juta jiwa. Garis kemiskinan di Sumedang tercatat sebesar Rp 422.714 per kapita per bulan. Pendapatan per kapita penduduknya tergolong lebih baik dibandingkan beberapa kabupaten lain, yaitu sekitar Rp 39,69 juta per tahun. Sumedang mengalami penurunan kemiskinan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 2,24 persen.
Kabupaten Tasikmalaya
Kabupaten Tasikmalaya mencatatkan persentase kemiskinan sebesar 10,23 persen dan menduduki peringkat ke-233 secara nasional. Jumlah penduduk miskin mencapai 186.750 jiwa dari total populasi 1.97 juta jiwa. Garis kemiskinan di Tasikmalaya tercatat sebesar Rp 400.148 per kapita per bulan. Pendapatan per kapita penduduknya sekitar Rp 25,91 juta per tahun. Kabupaten ini menunjukkan penurunan yang sangat kecil dalam angka kemiskinan, dengan pertumbuhan sebesar 0,06 persen.
Kabupaten Bandung Barat
Kabupaten Bandung Barat memiliki persentase kemiskinan sebesar 10,49 persen, menduduki peringkat ke-225 secara nasional. Jumlah penduduk miskin mencapai 179.700 jiwa dari total populasi 1.87 juta jiwa. Garis kemiskinan di Bandung Barat adalah Rp 455.325 per kapita per bulan. Pendapatan per kapita penduduknya sekitar Rp 32,5 juta per tahun. Kabupaten Bandung Barat mengalami sedikit peningkatan dalam angka kemiskinan, dengan pertumbuhan sebesar 0,15 persen.