Kementerian LHK Temukan 223 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Jambi (Sabtu, 15 November 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 223 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 86 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Sabtu (15/11/2025) pukul 11.53 WIB. Dari 223 titik panas terdeteksi, 5 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 210 titik skala sedang, dan 8 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Banjir Dominasi Bencana Alam di Indonesia Akhir Februari 2024)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Jambi sebanyak 40 titik. Riau menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 29 titik. Maluku Utara berada di posisi ketiga sebanyak 27 titik panas.
Sebanyak 26 titik panas terdeteksi di Sumatera Barat, Sulawesi Tenggara menyusul dengan 19 titik panas, serta Sulawesi Barat dan Sumatera Selatan masing-masing memiliki 15 dan 14 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Ada 1,7 Ribu Bencana Alam di Indonesia hingga Awal Juni 2023, Mayoritas Banjir)