Kementerian Kehutanan Deteksi 5.843 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Kalimantan Tengah (Minggu, 25 Oktober 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 5.843 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 12814 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Minggu (25/10/2026) pukul 11.51 WIB. Dari 5.843 titik panas terdeteksi, 206 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 5528 titik skala sedang, dan 109 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Kualitas Udara 6 Ibu Kota Provinsi Terdampak Karhutla, Palembang Terburuk)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Tengah sebanyak 2104 titik. Kalimantan Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 923 titik. Sumatera Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 771 titik panas.
Sebanyak 404 titik panas terdeteksi di Papua Selatan, Kepulauan Bangka Belitung menyusul dengan 189 titik panas, serta Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara masing-masing memiliki 181 dan 139 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Hanya Ada 12 Wilayah yang Lulus Standar Kualitas Udara WHO 2024)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18.081 | +0.24 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |