KLHK: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 95 Dalam 24 Jam Terakhir (Kamis, 26 Maret 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 95 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 834 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Kamis (26/3/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 95 titik panas terdeteksi, 21 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 69 titik skala sedang, dan 5 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Indikasi Luas Karhutla di Kalimantan Timur sampai Juni 2025)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Riau sebanyak 25 titik. Kepulauan Riau menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 22 titik. Kalimantan Barat berada di posisi ketiga sebanyak 15 titik panas.
Sebanyak 8 titik panas terdeteksi di Sumatera Barat, Bengkulu menyusul dengan 5 titik panas, serta Kepulauan Bangka Belitung dan Sumatera Utara masing-masing memiliki 5 dan 5 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Kalimantan Barat Hasilkan Emisi CO2 dari Karhutla Terbanyak sampai Juli 2023)