Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase kemiskinan di Kabupaten Jayapura naik sedikit menjadi 11,6% pada 2024. Kenaikan ini sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk miskin menjadi 15.210 jiwa, dari total 203.152 penduduk.
Pada periode 2023-2024, pertumbuhan kemiskinan di Kabupaten Jayapura tercatat sebesar 1,31%. Dibandingkan kabupaten lain di Papua, performa ini menempatkan Kabupaten Jayapura pada urutan yang kurang baik.
(Baca: 99,9% Penduduk di Kabupaten Pangandaran Beragama Islam)
Data historis menunjukkan fluktuasi angka kemiskinan di Kabupaten Jayapura. Persentase kemiskinan tertinggi terjadi pada 2006 sebesar 31,05%, sementara terendah pada 2023 sebesar 11,45%. Pertumbuhan kemiskinan tertinggi terjadi pada 2005 yaitu 8,77%, dan terendah pada 2008 yaitu -29,47%. Peringkat kemiskinan Kabupaten Jayapura secara nasional juga berfluktuasi, dengan peringkat terbaik ke-52 pada 2005 dan terburuk ke-216 pada 2021. Rata-rata persentase kemiskinan 3 tahun terakhir adalah 11,66%, sedangkan rata-rata 5 tahun terakhir adalah 12,11%.
Jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Papua dengan persentase kemiskinan yang berdekatan, Kabupaten Jayapura memiliki kondisi yang beragam. Kabupaten Biak Numfor memiliki persentase kemiskinan lebih tinggi (23,46%), sementara Kota Jayapura lebih rendah (10,72%). Kabupaten Keerom dan Sarmi juga memiliki persentase kemiskinan yang lebih tinggi, masing-masing 15,84% dan 14,05%.
Kabupaten Biak Numfor
Kabupaten Biak Numfor mencatatkan persentase kemiskinan sebesar 23,46%, menduduki peringkat 41 secara nasional. Jumlah penduduk miskin mencapai 35.940 jiwa, dengan total penduduk 149.476 jiwa. Pertumbuhan penduduk miskin sedikit naik 0,67%. Garis kemiskinan di Biak Numfor mencapai Rp 677.659,00 per kapita per bulan dan pendapatan per kapita masyarakat mencapai Rp 46,47 juta per tahun dengan pertumbuhan 3,12%.
Kota Jayapura
Kota Jayapura dengan persentase kemiskinan 10,72% berada di peringkat 215 se-Indonesia. Jumlah penduduk miskin tercatat 33.840 jiwa, dari total 404.351 penduduk. Pertumbuhan jumlah penduduk miskin meningkat 3,20%. Garis kemiskinan di kota ini cukup tinggi, yaitu Rp 1,17 juta per kapita per bulan. Pendapatan per kapita masyarakat mencapai Rp 94,66 juta per tahun, dengan pertumbuhan 3,71%.
(Baca: PDRB ADHB di Kabupaten Barru Menurut Sektor pada 2024)
Kabupaten Keerom
Kabupaten Keerom memiliki persentase kemiskinan 15,84% dan menduduki peringkat 87 secara nasional. Jumlah penduduk miskin mencapai 9.520 jiwa, dengan total penduduk 70.823 jiwa. Pertumbuhan penduduk miskin 2,15%. Garis kemiskinan di Keerom tercatat Rp 832.766,00 per kapita per bulan. Pendapatan per kapita masyarakat mencapai Rp 56,36 juta per tahun, dengan pertumbuhan 5,68%.
Kabupaten Sarmi
Kabupaten Sarmi mencatatkan persentase kemiskinan 14,05%, menduduki peringkat 120 secara nasional. Jumlah penduduk miskin mencapai 5.870 jiwa, dari total 44.200 penduduk. Pertumbuhan penduduk miskin mengalami kenaikan signifikan sebesar 7,71%. Garis kemiskinan di Sarmi tercatat Rp 653.436,00 per kapita per bulan. Pendapatan per kapita masyarakat mencapai Rp 88,75 juta per tahun, dengan pertumbuhan 6,34%.