KLHK Temukan 212 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Maluku Utara (Jumat, 1 Mei 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 212 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 63 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (1/5/2026) pukul 11.10 WIB. Dari 212 titik panas terdeteksi, 3 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 202 titik skala sedang, dan 7 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Jakarta dan Medan Kota Berpolusi Terburuk Dunia, Ini Tren Kualitas Udaranya)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Maluku Utara sebanyak 31 titik. Kalimantan Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 29 titik. Sulawesi Tenggara berada di posisi ketiga sebanyak 21 titik panas.
Sebanyak 19 titik panas terdeteksi di Sulawesi Tengah, Aceh menyusul dengan 14 titik panas, serta Sumatera Selatan dan Kalimantan Utara masing-masing memiliki 12 dan 10 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Kualitas Udara Jakarta Pagi Ini Terburuk Kedua di Dunia (Jumat, 17 Juni 2022))