KLHK: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 312 Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 14 Februari 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 312 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 82 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (14/2/2025) pukul 11.43 WIB. Dari 312 titik panas terdeteksi, 11 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 289 titik skala sedang, dan 12 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Ada Ratusan Bencana Alam sampai Awal April 2024, Banjir Terbanyak)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Bengkulu sebanyak 50 titik. Kalimantan Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 30 titik. Sumatera Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 30 titik panas.
Sebanyak 25 titik panas terdeteksi di Kepulauan Bangka Belitung, Riau menyusul dengan 23 titik panas, serta Maluku Utara dan Sulawesi Selatan masing-masing memiliki 19 dan 18 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Penerima Rumah Susun 2022, Terbanyak Korban Bencana Alam)