Harga Pangan Dunia Melonjak, Tertinggi Sepanjang Sejarah

Ekonomi & Makro
1
Adi Ahdiat 13/04/2022 12:20 WIB
Rata-rata Indeks Harga Pangan Tahunan Dunia (1990-2022*)
katadata logo databoks logo
  • A Font Kecil
  • A Font Sedang
  • A Font Besar

Food and Agriculture Organization (FAO) melaporkan Indeks Harga Pangan Dunia melonjak pada Maret 2022 dan mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.

"Indeks Harga Pangan Dunia rata-rata mencapai 159,3 poin pada Maret 2022, naik 17,9 poin atau 12,6% dibanding Februari 2022, melompat ke level tertinggi baru sejak tahun 1990," tulis FAO di situs resminya, Jumat (8/4/2022).

Indeks Harga Pangan Dunia FAO merupakan ukuran perubahan harga komoditas pangan pokok di skala internasional, yang mencakup harga serealia, minyak nabati, produk susu, daging, dan gula.

Faktor Pendorong Kenaikan Harga

Pada Maret 2022, kenaikan indeks harga paling tinggi terjadi pada komoditas minyak nabati, yang meningkat 23,2% dibanding bulan sebelumnya.

FAO menilai kenaikan tersebut didorong oleh semakin mahalnya harga minyak biji bunga matahari, minyak kelapa sawit, minyak kedelai, dan minyak lobak.

"Harga minyak biji bunga matahari internasional meningkat secara substansial pada Maret 2022, didorong oleh berkurangnya pasokan ekspor di tengah konflik yang sedang berlangsung di wilayah Laut Hitam," jelas FAO.

Indeks harga komoditas serealia juga naik sebesar 17,1% pada Maret 2022 dibanding bulan sebelumnya.

"Lonjakan harga gandum dan biji-bijian dunia, sebagian besar didorong oleh gangguan ekspor dari Ukraina terkait konfliknya dengan Rusia," jelas FAO.

"Kekhawatiran atas kondisi panen di Amerika Serikat (AS) juga mempengaruhi kenaikan harga gandum dunia," lanjutnya.

Untuk komoditas lainnya, FAO mencatat pada Maret 2022 indeks harga produk susu naik 2,6%, indeks harga daging naik 4,8%, sedangkan indeks harga gula naik 6,7% dibanding bulan sebelumnya.

"Kenaikan harga gula internasional pada Maret 2022 terutama didorong oleh kenaikan tajam harga minyak mentah internasional, yang meningkatkan ekspektasi penggunaan tebu lebih besar untuk produksi etanol di Brasil," jelas FAO.

Secara umum, FAO juga menilai kenaikan harga terjadi akibat berkurangnya pasokan komoditas pangan dari negara-negara produsen, sedangkan permintaannya tetap tinggi di skala global.

(Baca Juga: Hadapi Kenaikan Harga Pangan dan Energi, Inflasi AS Melambung 8,5%)

Editor : Adi Ahdiat
Data Populer
Lihat Semua
instagram
Databoks Indonesia (@databoks.id)
Portal data ekonomi dan bisnis. Bagian dari Katadata Indonesia.
twitter
Databoks Indonesia (@databoksid)
Portal data ekonomi dan bisnis. Bagian dari @katadatacoid.