Perang Dagang Amerika Serikat dan Tiongkok Berlanjut, Siapa Unggul?

Perdagangan
1
Viva Budy Kusnandar 08/08/2019 17:02 WIB
Neraca Perdagangan Amerika Serikat dengan Tiongkok (Jan 2018-Jun 2019)
katadata logo databoks logo
  • A Font Kecil
  • A Font Sedang
  • A Font Besar

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok terus berlanjut dengan saling menaikkan tarif impor barang di antara kedua negara itu. Terakhir, Presiden AS, Donald Trump akan melancarkan serangan perang dagang baru dengan mengenakan tarif tambahan 10% terhadap impor barang asal Negeri Tirai Bambu senilai US$ 300 miliar.

Langkah tersebut dibalas pemerintah Tiongkok dengan membiarkan mata uangnya, yuan melemah terhadap dolar AS. Kebijakan ini ditempuh agar harga barang-barang ekspor dari Negeri Panda tetap kompetitif di pasar global. Imbasnya, harga saham di bursa berjatuhan dan mata uang Asia melemah di awal perdagangan pekan ini.

(Baca Databoks: Perang Dagang Memanas, Berapa Defisit Perdagangan Amerika dengan Tiongkok?)

Menurut biro statistik Negeri Paman Sam, Amerika masih mengalami defisit perdagangan dengan Tiongkok meskipun mengalami tren penurunan dibanding tahun lalu seperti terlihat pada grafik di bawah ini. Seperti diketahui nilai ekspor AS ke Tiongkok pada Juni 2019 hanya US$ 9,03 miliar sementara impornya US$ 39 miliar, artinya neraca perdagangan AS kembali defisit US$ 29,97 miliar.  Demikian pula untuk periode Januari-Juni 2019 neraca perdagangan AS masih defisit US$ 167,04 miliar.

(Baca Databoks: IMF Revisi Pertumbuhan Ekonomi Dunia 2019 Akibat Pelemahan di Eropa dan Perang Dagang)

Editor : Hari Widowati
Data Populer
Lihat Semua
instagram
Databoks Indonesia (@databoks.id)
Portal data ekonomi dan bisnis. Bagian dari Katadata Indonesia.
twitter
Databoks Indonesia (@databoksid)
Portal data ekonomi dan bisnis. Bagian dari @katadatacoid.