Tanpa Teknologi, Lifting Minyak Indonesia Tinggal 281 Ribu Barel/Hari pada 2030

28/8/2018, 17.41 WIB

Dipersembahkan oleh:

Untuk menahan laju penurunan diperlukan lifting minyak dengan bantuan teknologi canggih untuk memaksimalkan pengurasan sumber minyak.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memproyeksikan lifting minyak mentah Indonesia akan mengalami tren penurunan hingga 2030. Dalam Rapat Dengan Pendapat dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat, SKK Migas memprediksi lifting minyak pada akhir tahun ini 775 ribu barel/hari dan akan menyusut tinggal 281 ribu barel/hari pada 2030. Artinya terjadi penurunan 494 ribu barel/hari dalam 13 tahun ke depan.

Baca selengkapnya

Penurunan tersebut terjadi karena eksploitasi sumur-sumur minyak saat ini kebanyakan sudah uzur  dan dilakukan tanpa teknologi canggih (Enhanced Oil Recovery/EOR). Untuk itu diperlukan EOR agar dapat memaksimalkan pengurasan sumber minyak yang ada ke permukaan sehingga dapat menahan laju penurunan lifting minyak nasional.

Menurut prediksi tersebut, lifting minyak tanpa EOR pada 2024 diprediksi mencapai 529 ribu barel/hari dan akan terus turun menjadi tinggal 281 ribu barel/hari. Namun, jika dengan EOR, lifting minyak pada 2024  dapat  531 ribu/barel dan akan turun menjadi 446 ribu barel/harian pada 2027. Kemudian, pada 2028 akan naik menjadi 459 ribu barel/hari dan terus naik menjadi 520 ribu barel/hari pada 2030.

(Baca Databoks: Lifting Minyak 2019 Lebih Rendah dari Target 2018)

Tampilkan minimal

Proyeksi Lifting Minyak Indonesia Dengan/Tanpa Kecanggihan Teknologi (2017-2030)

 
  • Sumber

    SKK Migas

  • Rilis

    SKK Migas Agt 2018

  • Informasi lain

    -

  • Embed Chart

Baca Juga

Statistik Lainnya