Menurut proyeksi perusahaan modal ventura asal Singapura, TNB Aura, pasar mobil bekas di Asia Tenggara berpotensi tumbuh dalam beberapa tahun ke depan, meski ada risiko adopsi kendaraan listrik (EV).
Pada 2020, estimasi ukuran pasar mobil bekas di kawasan Asia Tenggara masih US$54,8 miliar. Setelah itu nilanya diperkirakan terus bertambah hingga menjadi US$92,9 miliar pada 2028.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh meningkatnya pendapatan dan permintaan konsumen yang terus berubah di Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.
"Segmen mobil bekas terus berkembang pesat, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) 6% sampai 2028," kata TNB Aura dalam laporannya.
Menurut TNB Aura, Malaysia, Thailand, dan Indonesia merupakan pasar dengan transaksi mobil bekas terbesar, sementara Vietnam dan Filipina jadi pasar dengan pertumbuhan tercepat.
Salah satu faktor yang mendukung pasar mobil bekas di Asia Tenggara adalah munculnya platform digital, terutama di pasar dengan volume transaksi besar, seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
"Platform daring meningkatkan transparansi harga, visibilitas stok, dan konektivitas dealer, sehingga memungkinkan ekspansi regional yang lebih efisien," kata TNB Aura.
Faktor lainnya adalah tingkat kematangan pasar atau segmen konsumen yang berlapis.
"Aktivitas penjualan kembali yang lebih tinggi di Malaysia dan Thailand memberikan kedalaman monetisasi jangka pendek, sementara pasar dengan pendapatan per kapita lebih rendah seperti Indonesia, Vietnam, dan Filipina menunjukkan ruang tambahan untuk pertumbuhan struktural," kata TNB Aura.
TNB Aura juga memperkirakan pasar mobil bekas akan dipengaruhi dinamika transisi ke EV.
"Pertumbuhan pesat adopsi kendaraan listrik di Asia Tenggara mengubah siklus kepemilikan kendaraan, serta memperkenalkan struktur pasokan dan pemeliharaan baru, yang berkontribusi pada volatilitas jangka pendek di pasar mobil bekas," kata mereka.
(Baca: Ini Merek Mobil Terlaris di Indonesia pada Kuartal I 2026)