Menurut data United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), ukuran pasar teknologi frontier atau terdepan global pada 2033 diproyeksikan mencapai US$16,4 triliun.
Nilai tersebut tumbuh sekitar enam kali lipat dibanding 2023 yang sebesar US$2,5 triliun.
Pada 2033, kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan sebagai teknologi frontier dengan ukuran pasar terbesar secara global, yakni US$4,77 triliun atau 29,09% dari total nilai.
UNCTAD mengatakan, terobosan yang terus-menerus membuat AI menjadi lebih kuat dan efisien, serta mendorong adopsinya di banyak sektor dan bisnis.
Contohnya, sejak 2022 telah terjadi lonjakan minat terhadap generatif AI (GenAI), ketika organisasi/perusahaan di berbagai negara dan industri bereksperimen dengan AI.
“Termasuk pembuatan konten, pengembangan produk, pengodean otomatis, dan layanan pelanggan yang dipersonalisasi,” jelas UNCTAD dalam Technology and Innovation Report 2025.
Selain AI, internet of things (IoT) turut menjadi teknologi frontier dengan ukuran pasar terbesar pada 2033, dengan proyeksi menyumbang US$3,14 triliun bagi ekonomi global.
Menurut UNCTAD, IoT yang dipadukan dengan teknologi industri 4.0 lainnya dan AI, akan mempercepat transformasi digital di sektor pertanian, manufaktur, dan jasa.
Kemudian juga meningkatkan produktivitas dan kualitas produk, disertai dengan potensi mengurangi biaya dan emisi karbon.
Berikut lima teknologi frontier dengan estimasi ukuran pasar terbesar secara global pada 2033, menurut UNCTAD:
- AI: US$4,77 triliun
- IoT: US$3,14 triliun
- Teknologi blockchain: US$2,35 triliun
- Kendaraan listrik: US$1,40 triliun
- 5G: US$1,27 triliun
Selain lima itu, ada pula teknologi lain, meliputi big data, 3D printing, robot, teknologi drone, tenaga surya fotovoltaik, dan tenaga surya terkonsentrasi.
Lalu bahan bakar nabati, biogas dan biomassa, energi angin, hidrogen hijau, nanoteknologi, dan pengeditan gen.
(Baca: Ragam Pemanfaatan AI oleh Pengusaha 3 Generasi di RI Awal 2026)