Tren penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Kini AI makin umum dipakai untuk mendukung aktivitas bisnis, hingga membantu masyarakat dalam mencari informasi dan hiburan.
(Baca: Ini Jenis Layanan AI yang Banyak Digunakan Masyarakat Indonesia)
Namun, penggunaan AI juga memiliki konsekuensi bagi lingkungan.
Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), infrastruktur pusat data atau data center yang menopang operasi AI membutuhkan banyak energi, yang umumnya masih berasal dari penggunaan bahan bakar fosil.
Hal tersebut dikhawatirkan bisa menambah emisi gas rumah kaca dan ikut mendorong laju pemanasan global.
"Banyak yang belum kita ketahui tentang dampak AI bagi lingkungan, tapi beberapa data yang kita punya cukup mengkhawatirkan," kata Chief Digital Officer UNEP dalam siaran pers (21/9/2024).
"Kita perlu memastikan bahwa AI berdampak positif bagi planet ini, sebelum kita menerapkan teknologi ini dalam skala besar," lanjutnya.
(Baca: Emisi CO2 Sektor Energi dan Industri Global Meningkat pada 2024)
Kekhawatiran UNEP salah satunya terkait dengan penelitian Alex de Fries, akademisi dari VU Amsterdam School of Business and Economics, Belanda.
Dalam laporan riset The growing energy footprint of artificial intelligence (Oktober 2023), Alex de Fries mengungkapkan bahwa ChatGPT, aplikasi AI terpopuler global, mengonsumsi energi listrik lebih banyak dibanding Google Search.
Secara rata-rata, ChatGPT diperkirakan memakan listrik 2,9 watt-hour (Wh) untuk menyelesaikan satu perintah pengguna (request).
Sedangkan Google Search standar tanpa AI rata-rata hanya menyedot listrik 0,3 Wh per request, hampir 10 kali lipat lebih rendah dari ChatGPT.
Merespons temuan ini, Alex de Fries mendorong adanya pengaturan industri AI yang memperhatikan aspek lingkungan.
"Pihak regulator mungkin bisa membuat kebijakan untuk meningkatkan transparansi rantai pasokan AI, untuk mendorong pemahaman lebih baik tentang dampak lingkungan dari teknologi yang sedang berkembang ini," kata Alex de Fries dalam laporannya.
(Baca: Emisi Gas Rumah Kaca Google Naik Gara-gara AI)