Hasil sigi Reuters dan Ipsos menunjukkan, tingkat kesetujuan atau approval rating warga Amerika Serikat (AS) terhadap Presiden Donald Trump berada di level 36% pada 23 Maret 2026.
Melansir Reuters, capaian tersebut merosot dalam beberapa hari terakhir ke titik terendah sejak Trump kembali ke Gedung Putih. Ini dipicu ketidaksetujuan warga terhadap perang yang Trump lancarkan terhadap Iran.
"Sebanyak 36% warga Amerika menyetujui kinerja Trump, turun dari 40% dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan pekan sebelumnya," tulis Jason Lange dan Bo Erickson dalam laporan Reuters, Rabu (25/3/2026).
Menurut penulis, pandangan warga Amerika terhadap Trump memburuk secara signifikan terkait pengelolaannya atas perekonomian dan biaya hidup, seiring harga bensin yang melonjak buntut AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
(Baca: Tiga Pekan Perang di Timur Tengah, Harga Bensin Naik di 106 Negara)
Hasil jajak pendapat berdasarkan sektoral menunjukkan, hanya 29% warga Amerika yang menyetujui pengelolaan ekonomi Trump. Ini merupakan rating terendah dalam salah satu dari dua masa pemerintahan Trump dan lebih rendah dari rating persetujuan ekonomi mana pun dari pendahulunya, Joe Biden.
"Kekhawatiran para pemilih tentang perekonomian dan khususnya meningkatnya biaya hidup menjadi faktor penting dalam kekalahan Biden, sementara Trump berkampanye dengan janji untuk menciptakan ekonomi yang dinamis," kata penulis.
Perubahan Penilaian Sebab Perang Iran
Perang AS-Israel terhadap Iran diyakini bisa membuat penilaian warga AS terhadap Trump berubah.
Survei itu menemukan, 35% warga Amerika menyetujui serangan AS terhadap Iran, turun dari 37% pada pekan lalu. Mayoritas atau sekitar 61% justru memilih tidak menyetujui serangan tersebut, naik dari pekan lalu yang mencapai 59%.
(Baca: Dari Bush hingga Trump, AS Telah Mengebom 10 Negara sejak 2001)
"Survei Reuters/Ipsos sebelumnya dilakukan sesegera setelah serangan pertama AS dan Israel, ketika banyak warga Amerika masih mempelajari situasinya, dan responden diberi pilihan untuk menyatakan bahwa mereka belum yakin dengan pandangan mereka," kata penulis.
Tim penulis merincikan, jajak pendapat pada 28 Februari–1 Maret menemukan 27% menyetujui serangan tersebut, 43% tidak menyetujui, dan 29% tidak yakin.
Sebagai catatan, survei terbaru tidak memberikan pilihan untuk tidak yakin, meskipun 5% responden dalam jajak pendapat terbaru menolak menjawab pertanyaan mengenai pandangan mereka tentang perang tersebut.
(Baca: Mayoritas Warga AS Tak Puas dengan Trump di Semua Indikator)