Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana menguasai Greenland, dan bila perlu, ia akan menggunakan kekuatan militer.
Hal ini diungkapkan Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Kantor Kepresidenan AS, The White House.
"Presiden Trump telah menyatakan dengan jelas bahwa penguasaan Greenland adalah prioritas keamanan nasional AS, dan ini sangat penting untuk menghalau musuh kami di wilayah Arktik," kata Karoline Leavitt, diberitakan The New York Times, Selasa (7/1/2026).
"Presiden dan timnya sedang membahas berbagai opsi untuk mengejar tujuan kebijakan luar negeri yang penting ini, dan tentu saja, penggunaan militer AS selalu menjadi pilihan yang tersedia," ujarnya.
Selain memiliki posisi strategis bagi keamanan nasional AS, Greenland juga memiliki kekayaan sumber daya alam berupa logam tanah jarang (rare earths).
Logam tersebut berharga karena bisa digunakan untuk bahan baku industri teknologi, seperti smartphone, kamera digital, hard disk dan monitor komputer, lampu LED, televisi layar datar, baterai, komponen kendaraan listrik, pembangkit energi tenaga angin, sampai perlengkapan militer.
Menurut data United States Geological Survey (USGS), cadangan logam tanah jarang Greenland pada 2024 mencapai 1,5 juta metrik ton.
Angka tersebut setara 2% dari total cadangan global, menjadikan Greenland sebagai lokasi cadangan logam tanah jarang terbesar ke-8 di dunia.
Selain Greenland, hanya ada 11 negara yang tercatat memiliki cadangan logam serupa pada 2024.
Berikut rincian sebaran cadangan logam tanah jarang global yang sudah diketahui pada 2024, diurutkan dari yang terbesar:
- China: 44 juta metrik ton
- Brasil: 21 juta metrik ton
- India: 6,9 juta metrik ton
- Australia: 5,7 juta metrik ton
- Rusia: 3,8 juta metrik ton
- Vietnam: 3,5 juta metrik ton
- Amerika Serikat: 1,9 juta metrik ton
- Greenland: 1,5 juta metrik ton
- Tanzania: 890 ribu metrik ton
- Afrika Selatan: 860 ribu metrik ton
- Kanada: 830 ribu metrik ton
- Thailand: 4,5 ribu metrik ton
(Baca: 6 Jenis Mineral Paling Dibutuhkan untuk Transisi Energi)