Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk perawatan kulit di Kabupaten Supiori mencapai 102799 rupiah pada tahun 2024. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 80,4 persen dibandingkan tahun 2023 yang hanya tercatat 56972 rupiah. Sepanjang periode pencatatan tahun 2018 hingga 2024, nilai ini merupakan pengeluaran tertinggi yang pernah tercatat untuk wilayah kabupaten yang terletak di provinsi Papua ini.
(Baca: Persentase Penduduk Miskin di Perdesaan di Papua Barat Daya | 2025)
Sepanjang tujuh tahun terakhir, pengeluaran perawatan kulit masyarakat Kabupaten Supiori mengalami pergerakan naik turun. Pada tahun 2018 tercatat 25692 rupiah, kemudian naik berturut-turut hingga tahun 2020 mencapai 54700 rupiah. Setelah itu turun pada tahun 2021 menjadi 35258 rupiah, lalu kembali naik secara bertahap hingga terjadi lonjakan besar pada tahun 2024.
Dari sisi komposisi pengeluaran, pengeluaran perawatan kulit pada tahun 2024 setara dengan 37 persen dari rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang jasa. Nilai ini juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata pengeluaran untuk kecantikan secara umum yang hanya tercatat 20341 rupiah per kapita per bulan. Jika dibandingkan pengeluaran untuk rokok dan tembakau, nilai pengeluaran perawatan kulit ini mencapai 138 persen dari nilai pengeluaran rokok masyarakat setempat.
Pada tingkat provinsi Papua, Kabupaten Supiori menempati urutan kelima dari sembilan kabupaten dan kota yang dicatat untuk kategori pengeluaran perawatan kulit tahun 2024. Di atas Kabupaten Supiori berturut-turut adalah Kabupaten Sarmi dengan 132261 rupiah, Kabupaten Jayapura 121693 rupiah, Kabupaten Keerom 120335 rupiah dan Kota Jayapura 118160 rupiah. Secara nasional, wilayah ini menempati urutan ke 48 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia.
Catatan pertumbuhan 80,4 persen pada tahun 2024 menjadikan Kabupaten Supiori memiliki tingkat kenaikan pengeluaran perawatan kulit terbesar kedua di provinsi Papua tahun ini. Hanya Kabupaten Kepulauan Yapen yang mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi yaitu sebesar 108,5 persen. Sementara itu terdapat dua wilayah yang justru mencatat penurunan yaitu Kabupaten Jayapura sedikit turun 6,7 persen dan Kota Jayapura sedikit turun 19,8 persen.
Pengeluaran Makanan Masyarakat
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Perawatan Kulit Kab. Aceh Tamiang | 2024)
Badan Pusat Statistik juga mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Kabupaten Supiori mencapai 671614 rupiah pada tahun 2024. Nilai ini mengalami sedikit penurunan sebesar 11,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menempatkan wilayah ini pada urutan ketujuh dari seluruh kabupaten kota di provinsi Papua untuk kategori ini. Nilai pengeluaran makanan ini jauh lebih besar dibandingkan pengeluaran perawatan kulit, bahkan mencapai hampir 6,5 kali lipat dari nilai pengeluaran untuk perawatan kulit masyarakat setempat.
Pengeluaran Bukan Makanan
Untuk kategori pengeluaran bukan makanan, Kabupaten Supiori mencatatkan nilai sebesar 395399 rupiah per kapita per bulan pada tahun 2024. Nilai ini naik sebesar 13,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan posisi peringkat urutan kedelapan di tingkat provinsi Papua. Nilai ini masih berada di bawah rata-rata sebagian besar wilayah tetangga, dimana Kota Jayapura sebagai wilayah dengan pengeluaran bukan makanan tertinggi mencatatkan nilai lebih dari dua kali lipat dari nilai Kabupaten Supiori.
Total Pengeluaran Masyarakat
Total pengeluaran per kapita gabungan makanan dan bukan makanan di Kabupaten Supiori tercatat sebesar 1067014 rupiah per bulan pada tahun 2024. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 27,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikan wilayah ini berada pada urutan kedelapan dari sembilan kabupaten kota di provinsi Papua. Penurunan ini terjadi ditengah adanya lonjakan signifikan pada pos pengeluaran perawatan kulit yang terjadi pada periode tahun yang sama.
Perbandingan Perkembangan Wilayah Tetangga
Disamping Kabupaten Supiori, empat wilayah lain teratas di provinsi Papua juga menunjukkan pola yang berbeda. Kabupaten Keerom mencatatkan lonjakan pengeluaran perawatan kulit sebesar 104,1 persen, Kabupaten Sarmi naik 22,8 persen, sementara dua wilayah perkotaan justru mencatat penurunan. Tidak ada korelasi langsung antara peringkat total pengeluaran masyarakat dengan peringkat pengeluaran untuk perawatan kulit pada seluruh wilayah yang diamati di provinsi Papua.