- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar US$ 122 juta. Angka ini berbalik arah dari posisi defisit US$ 450 juta pada Juni 2026, dengan pertumbuhan bulanan sebesar 127,06 persen. Secara tahunan, nilai surplus Juli 2026 mengalami kontraksi sangat dalam sebesar 97,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
BPS mencatat nilai surplus Juli 2026 ini masih sangat jauh dari rekor tertinggi neraca perdagangan Indonesia yang pernah dicapai, yaitu US$ 7,58 miliar pada April 2022. Sebaliknya, angka ini juga masih berada di atas rekor terendah defisit turun US$ 2,33 miliar yang tercatat pada April 2019. Sepanjang data historis BPS, nilai neraca Juli 2026 masuk dalam kategori sangat kecil dibandingkan rata-rata periode lima tahun terakhir.
Sepanjang dua belas bulan terakhir, neraca perdagangan Indonesia menunjukkan fluktuasi yang sangat ekstrem. Penurunan terbesar terjadi pada Mei 2026 ketika neraca berbalik menjadi defisit -US$ 1,61 miliar, didorong lonjakan impor yang melampaui pertumbuhan ekspor. Sementara lonjakan tertinggi tercatat pada Maret 2026 dengan surplus US$ 3,32 miliar, ketika nilai impor turun signifikan menjadi hanya US$ 19,21 miliar.
BPS mencatat akumulasi neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 mencatatkan surplus total sebesar US$ 3,70 miliar. Surplus tertinggi sepanjang tahun berjalan tercatat pada Maret 2026, dengan nilai mencapai US$ 3,32 miliar. Akumulasi total ekspor selama enam bulan pertama tahun 2026 mencapai US$ 140,81 miliar, sedangkan total impor tercatat US$ 137,24 miliar.
Pada periode Juni 2026, ekspor non-migas tumbuh 8,68 persen secara bulanan dan 9,46 persen secara tahunan menjadi US$ 24,39 miliar. Sementara ekspor migas naik 40,52 persen secara bulanan namun sedikit turun 3,78 persen secara tahunan. Secara akumulasi tahun berjalan, ekspor non-migas menyumbang 95,57 persen dari total ekspor nasional, sementara ekspor migas hanya menyumbang 4,43 persen.
(Baca: Data 2024: Jumlah Perceraian Sulawesi Tenggara 69 Kasus)
Sisi impor menunjukkan tren pertumbuhan yang lebih tinggi: impor total tumbuh 4,41 persen secara bulanan dan 34,27 persen secara tahunan pada Juni 2026. Impor migas hampir stagnan secara bulanan namun melonjak 105,15 persen secara tahunan, sementara impor non-migas tumbuh 5,18 persen secara bulanan dan 25,05 persen secara tahunan. Lonjakan impor migas yang lebih dari dua kali lipat setahun lalu menjadi beban utama yang menekan nilai surplus neraca perdagangan.
Secara keseluruhan, posisi surplus neraca perdagangan Juli 2026 hanya dapat dipertahankan berkat kinerja ekspor non-migas yang konsisten tumbuh. Tekanan defisit neraca migas yang mencapai hampir US$ 3,5 miliar per bulan terus menggerus seluruh keuntungan surplus dari sektor non-migas. Apabila tidak ada penyesuaian kebijakan sisi energi, tren surplus kecil atau bahkan defisit akan terus berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Agu) | 3,19% | +0.31 | |
| Inflasi mom (Jul) | -0,14% | -0.58 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.718 | +0.06 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Neraca perdagangan (Jul) | 121,90 | -127.06 | |
| Ekspor Migas (Jun) | 1,07 | +40.52 | |
| Impor Migas (Jun) | 4,56 | +0.96 | |
| Ekspor (Jun) | 25,46 | +9.72 | |
| Impor (Jun) | 25,91 | +4.41 | |
| Kunjungan Wisman (Mei) | 1,38 | +10.69 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |