Pengeluaran untuk aneka barang dan jasa di Kota Prabumulih menunjukkan perkembangan yang menarik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada tahun 2024, pengeluaran mencapai Rp215.232 per kapita per bulan. Angka ini mengalami penurunan sebesar 8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara historis, pengeluaran untuk aneka barang dan jasa di Kota Prabumulih mengalami fluktuasi. Tahun 2018, pengeluaran tercatat sebesar Rp202.834, kemudian turun menjadi Rp155.662 pada tahun 2019. Sempat naik signifikan menjadi Rp205.593 pada tahun 2020, namun kembali turun menjadi Rp162.505 pada tahun 2021. Pada tahun 2022, pengeluaran kembali meningkat menjadi Rp203.350 dan mencapai pengeluaran tertinggi pada tahun 2023 sebesar Rp233.970 sebelum akhirnya turun di tahun 2024.
(Baca: Sektor Utama Penggerak Perekonomian di Kota Metro pada 2024)
Meskipun mengalami penurunan di tahun terakhir, pengeluaran masyarakat Kota Prabumulih untuk aneka barang dan jasa masih tergolong besar. Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan jadi mencapai Rp154.291, menunjukkan bahwa sebagian besar pengeluaran dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Pengeluaran untuk rokok dan tembakau juga cukup signifikan, yaitu Rp86.531 per kapita per bulan. Sementara itu, pengeluaran untuk kecantikan, perawatan, dan sabun mandi masing-masing tercatat sebesar Rp32.337, Rp46.496, dan Rp59.654.
Dalam skala provinsi Sumatera Selatan, Kota Prabumulih menduduki peringkat ke-4 dalam hal pengeluaran untuk aneka barang dan jasa. Peringkat ini menunjukkan bahwa tingkat konsumsi masyarakat Kota Prabumulih cukup tinggi dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di provinsi tersebut. Sementara itu, secara nasional, Kota Prabumulih berada di peringkat ke-287.
Jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Sumatera Selatan, Kota Palembang mencatatkan nilai pengeluaran tertinggi untuk aneka barang dan jasa pada tahun 2024, yaitu Rp357.048, dengan pertumbuhan 8%. Kabupaten Banyuasin berada di urutan kedua dengan nilai Rp223.788 dan pertumbuhan 5.9%. Sementara itu, Kota Lubuk Linggau mencatatkan nilai Rp216.356, namun mengalami penurunan sebesar 11%. Kabupaten Lahat mencatatkan nilai Rp209.159 dengan penurunan 3%, dan Kabupaten Muara Enim mencatatkan nilai Rp200.153 dengan pertumbuhan signifikan sebesar 22.5%.
(Baca: 22,93% Penduduk Kabupaten Banggai Masih Anak-Anak (Update 2024))
Kota Palembang
Berdasarkan data BPS, Kota Palembang menduduki peringkat pertama di Sumatera Selatan dalam hal rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan dengan nilai Rp861.308 pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 10.5% dibandingkan tahun sebelumnya. Besarnya pengeluaran ini mencerminkan tingkat konsumsi masyarakat Palembang yang tinggi terhadap barang dan jasa selain makanan.
Kabupaten Musi Banyuasin
Kabupaten Musi Banyuasin menempati posisi kedua di Sumatera Selatan dalam hal rata-rata pengeluaran per kapita sebulan makanan dan bukan makanan dengan nilai Rp1.402.383 pada tahun 2024. Pertumbuhan pengeluaran ini sangat signifikan, yaitu sebesar 24.4% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan peningkatan kesejahteraan dan daya beli masyarakat Musi Banyuasin.
Kabupaten Muara Enim
Kabupaten Muara Enim mencatatkan pertumbuhan tertinggi dalam rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan, yaitu sebesar 23.4%. Pada tahun 2024, pengeluaran untuk makanan mencapai Rp692.039, naik signifikan dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan bahwa masyarakat Muara Enim semakin mampu memenuhi kebutuhan pangan mereka.
Kota Lubuk Linggau
Kota Lubuk Linggau menunjukkan kondisi yang berbeda dibandingkan wilayah lain di Sumatera Selatan. Meskipun rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan cukup tinggi, yaitu Rp570.878 pada tahun 2024, namun pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya relatif stagnan, hanya 0.2%. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Lubuk Linggau mungkin tidak sepesat wilayah lainnya.