Pengeluaran untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Temanggung pada tahun 2024 tercatat sebesar Rp68.797 per kapita per bulan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka ini mengalami kenaikan sebesar 2,5% dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang dan jasa sebesar Rp178.298, maka pengeluaran untuk rokok dan tembakau mencapai 38,6% dari total pengeluaran. Pengeluaran untuk rokok dan tembakau juga lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk kecantikan (Rp24.641) maupun perawatan (Rp45.456), namun lebih kecil dibanding pengeluaran untuk makanan jadi (Rp173.132).
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan di Kalimantan Tengah 2015 - 2024)
Secara historis, pengeluaran untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Temanggung mengalami fluktuasi. Sempat menyentuh angka tertinggi pada tahun 2023 sebesar Rp67.141, kemudian naik sedikit pada tahun 2024 menjadi Rp68.797. Pada tahun 2021 sempat terjadi penurunan tajam turun 25,9%, sebelum kembali naik pada tahun-tahun berikutnya.
Pada tahun 2024, Kabupaten Temanggung berada di peringkat 35 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah dalam hal besar pengeluaran untuk rokok dan tembakau. Di tingkat nasional, Kabupaten Temanggung menduduki peringkat 489. Di Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung berada di peringkat 117.
Berdasarkan data perbandingan dengan kabupaten/kota lain di Jawa Tengah pada tahun 2024, Kabupaten Pati memiliki pengeluaran tertinggi untuk rokok dan tembakau, yaitu Rp151.356 per kapita per bulan, diikuti Kabupaten Rembang (Rp146.365), dan Kabupaten Demak (Rp142.988). Sementara itu, pertumbuhan pengeluaran tertinggi dibandingkan tahun sebelumnya terjadi di Kabupaten Blora (17%). Kabupaten Temanggung berada di urutan paling akhir dalam data ini.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Sabun Mandi Kab. Barito Selatan | 2024)
Kota Semarang
Kota Semarang menunjukkan pertumbuhan rata-rata pengeluaran per kapita bukan makanan yang signifikan sebesar 12,6%, dengan nilai pengeluaran mencapai Rp1.322.997. Meskipun demikian, pengeluaran untuk makanan juga mengalami kenaikan sebesar 14,7%, mencapai Rp914.785. Peringkat Kota Semarang sebagai kota dengan pengeluaran tertinggi di Jawa Tengah menunjukkan stabilitas ekonomi yang kuat di sektor konsumsi.
Kota Salatiga
Kota Salatiga mengalami anomali penurunan dalam rata-rata pengeluaran per kapita bukan makanan turun 14,4%, dengan nilai tercatat Rp1.315.195. Sejalan dengan itu, pengeluaran untuk makanan juga mengalami penurunan turun 5,5%, menjadi Rp811.317. Penurunan ini menarik, mengingat Kota Salatiga tetap menduduki peringkat kedua tertinggi di Jawa Tengah dalam hal pengeluaran.
Kota Magelang
Kota Magelang mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 1,8% dalam pengeluaran per kapita bukan makanan, mencapai Rp980.996. Pengeluaran untuk makanan di kota ini juga mengalami peningkatan sebesar 14,3%, dengan nilai mencapai Rp541.315. Meskipun demikian, Kota Magelang berada di peringkat yang lebih rendah dibandingkan Kota Semarang dan Salatiga dalam hal total pengeluaran.
Kota Surakarta
Kota Surakarta menunjukkan penurunan turun 3,7% dalam pengeluaran per kapita bukan makanan, dengan nilai Rp942.391. Namun, pengeluaran untuk makanan di kota ini relatif stabil dengan penurunan tipis -0,9%, mencapai Rp759.788. Kota Surakarta tetap menjadi salah satu kota dengan tingkat pengeluaran yang signifikan di Jawa Tengah, meskipun mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.