Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan minuman jadi di Kota Banjar pada tahun 2024 mencapai 262.646 rupiah. Angka ini naik sebesar 8,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 241.562 rupiah. Selisih pengeluaran dengan tahun sebelumnya mencapai 21.084 rupiah per kapita sebulan. Informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Makanan dan Minuman Jadi Kab. Bungo | 2024)
Bandingkan dengan total pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang jasa di Kota Banjar yang sebesar 270.285 rupiah, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi menyumbang sekitar 97,2 persen dari total tersebut. Pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi juga lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk kecantikan (32.456 rupiah) dan perawatan (43.662 rupiah), namun lebih rendah dibandingkan pengeluaran untuk rokok dan tembakau (114.858 rupiah). Informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas.
Melihat data historis dari tahun 2018 hingga 2024, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi di Kota Banjar mengalami fluktuasi. Tahun 2019, pengeluaran turun sedikit sebesar 13,7 persen menjadi 175.022 rupiah dari tahun 2018 yang sebesar 202.807 rupiah. Tahun 2020, pengeluaran naik sebesar 29,1 persen menjadi 225.880 rupiah, lalu turun sedikit sebesar 15,1 persen pada tahun 2021 menjadi 191.784 rupiah. Tahun 2022 hingga 2024, pengeluaran terus naik berturut-turut sebesar 15,7 persen, 8,9 persen, dan 8,7 persen. Pengeluaran tertinggi terjadi pada tahun 2024, sedangkan terendah pada tahun 2019. Informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas.
Dalam perbandingan dengan kabupaten/kota lain di Provinsi Jawa Barat, Kota Banjar menempati peringkat ke-14 untuk pengeluaran makanan dan minuman jadi tahun 2024. Lima kabupaten/kota dengan pengeluaran tertinggi di provinsi tersebut adalah Kota Bekasi (478.517 rupiah, pertumbuhan 12,5 persen), Kota Depok (420.276 rupiah, pertumbuhan 6,2 persen), Kabupaten Bekasi (398.530 rupiah, pertumbuhan 30,2 persen), Kota Bandung (383.870 rupiah, pertumbuhan 2,4 persen), dan Kota Cimahi (348.576 rupiah, pertumbuhan minus 1,1 persen). Semua lima wilayah ini memiliki peringkat yang lebih tinggi dari Kota Banjar dan sebagian besar mengalami pertumbuhan positif kecuali Kota Cimahi. Informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas.
Kota Bekasi
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan di Kalimantan Selatan 2015 - 2024)
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Kota Bekasi tahun 2024 mencapai 1.224.388 rupiah, naik sebesar 21,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1.009.446 rupiah. Pengeluaran untuk bukan makanan di wilayah ini mencapai 1.908.316 rupiah, dengan pertumbuhan 22,4 persen dari tahun sebelumnya. Total pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan mencapai 3.132.705 rupiah, naik sebesar 9,4 persen. Kota Bekasi menempati peringkat pertama di Provinsi Jawa Barat untuk ketiga indikator tersebut, menunjukkan daya beli masyarakat yang tinggi dibandingkan wilayah lain di provinsi. Pertumbuhan pengeluaran non makanan sedikit lebih tinggi dibandingkan pengeluaran makanan, menunjukkan bahwa masyarakat Kota Bekasi mulai mengalokasikan lebih banyak dana untuk kebutuhan selain makanan seperti jasa, perawatan, dan kecantikan. Informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas.
Kota Depok
Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Kota Depok tahun 2024 sebesar 1.148.659 rupiah, naik sebesar 9 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran untuk bukan makanan mencapai 1.674.594 rupiah dengan pertumbuhan 12,8 persen. Total pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan sebesar 2.823.253 rupiah, naik sebesar 3,6 persen. Kota Depok menempati peringkat kedua di Provinsi Jawa Barat untuk ketiga indikator ini, di bawah Kota Bekasi namun di atas wilayah lain. Pertumbuhan pengeluaran non makanan di sini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pengeluaran makanan, menunjukkan pergeseran pola konsumsi masyarakat ke arah barang dan jasa non makanan seperti perawatan kesehatan, pendidikan, dan hiburan. Meskipun total pengeluaran naik, pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan Kota Bekasi, menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Kota Depok masih berada di level yang tinggi namun tidak secepat Kota Bekasi. Informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas.
Kabupaten Bekasi
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Kabupaten Bekasi tahun 2024 mencapai 931.496 rupiah, naik sebesar 13,8 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran untuk bukan makanan sebesar 967.482 rupiah dengan pertumbuhan 3,4 persen. Total pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan sebesar 1.898.978 rupiah, turun sedikit sebesar 4,6 persen dari tahun sebelumnya. Kabupaten Bekasi menempati peringkat keempat untuk pengeluaran makanan, keenam untuk pengeluaran non makanan, dan keenam untuk total pengeluaran di Provinsi Jawa Barat. Pertumbuhan pengeluaran makanan di sini lebih signifikan dibandingkan pengeluaran non makanan, menunjukkan bahwa prioritas konsumsi masyarakat masih pada kebutuhan pokok makanan. Penurunan total pengeluaran kemungkinan disebabkan oleh penyesuaian struktur konsumsi atau penurunan pengeluaran untuk beberapa kategori barang jasa non makanan yang tidak tercakup dalam indikator utama. Informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas.
Kota Bandung
Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Kota Bandung tahun 2024 sebesar 996.064 rupiah, naik sebesar 17,7 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran untuk bukan makanan mencapai 1.382.176 rupiah dengan pertumbuhan 12,2 persen. Total pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan sebesar 2.378.240 rupiah, turun sedikit sebesar 14 persen dari tahun sebelumnya. Kota Bandung menempati peringkat ketiga untuk pengeluaran makanan, keempat untuk pengeluaran non makanan, dan keempat untuk total pengeluaran di Provinsi Jawa Barat. Meskipun total pengeluaran turun, pengeluaran makanan dan non makanan masing-masing mengalami pertumbuhan positif, menunjukkan bahwa penurunan total kemungkinan disebabkan oleh perubahan struktur konsumsi atau penyesuaian data dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan pengeluaran makanan lebih tinggi dibandingkan non makanan, menunjukkan bahwa masyarakat Kota Bandung masih memberikan prioritas pada kebutuhan pokok meskipun juga meningkatkan pengeluaran untuk barang jasa non makanan. Informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas.