Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk makanan dan minuman jadi di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir pada tahun 2025 mencapai 112359 Rupiah. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 5,3 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebelumnya tercatat sebesar 118704 Rupiah. Sepanjang periode 2018 hingga 2025, pengeluaran tertinggi untuk kategori ini terjadi pada tahun 2024, sementara nilai terendah tercatat pada tahun 2018 dengan nilai 75427 Rupiah per kapita per bulan.
(Baca: Harga Daging Ayam Ras Segar di Sulawesi Tengah Rp.61.200 per Kg (Selasa, 18 Agustus 2026))
Sepanjang 8 tahun data yang tercatat, terlihat pergerakan nilai yang naik turun. Setelah tahun 2018, terjadi kenaikan sangat besar sebesar 33,9 persen pada tahun 2019. Kemudian terjadi penurunan sedikit pada tahun 2020, penurunan kembali pada tahun 2021, lalu naik kembali secara berturut-turut selama tiga tahun hingga tahun 2024 sebelum akhirnya turun kembali pada tahun 2025. Rata-rata pengeluaran dalam 5 tahun terakhir berada pada angka 106695 Rupiah per kapita per bulan.
Dari data perbandingan seprovinsi Sumatera Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir menempati urutan ke 17 dari seluruh 17 kabupaten dan kota yang ada di provinsi ini. Artinya wilayah ini memiliki nilai pengeluaran makanan dan minuman jadi terendah dibandingkan seluruh wilayah lain di Sumatera Selatan. Secara nasional, wilayah ini menempati urutan ke 447 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia, dan urutan 148 di seluruh wilayah Pulau Sumatera.
Untuk perbandingan dengan wilayah tertinggi di provinsi, Kota Palembang mencatat pengeluaran makanan dan minuman jadi tahun 2025 sebesar 259336 Rupiah. Nilai ini hampir 2,3 kali lipat lebih besar dibandingkan nilai di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir. Kabupaten Ogan Ilir berada di urutan kedua dengan nilai 205789 Rupiah, disusul Kota Lubuk Linggau 203963 Rupiah, Kabupaten Lahat 187853 Rupiah dan Kabupaten Musi Banyuasin 187025 Rupiah.
Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir
Badan Pusat Statistik juga mencatat total pengeluaran per kapita per bulan seluruh kategori di wilayah ini pada tahun 2025 mencapai 995842 Rupiah. Dari nilai total tersebut, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi hanya menyumbang sekitar 11,3 persen dari seluruh pengeluaran masyarakat. Sementara itu pengeluaran untuk kategori bukan makanan mencapai 424379 Rupiah per kapita per bulan, dengan pertumbuhan penurunan sedikit sebesar 2,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah ini konsisten menempati urutan terakhir di seluruh ranking pengeluaran per kapita di Sumatera Selatan untuk semua kategori yang dicatat.
(Baca: Statistik Kredit Bank Umum Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian Periode 2015-2026)
Perbandingan Pengeluaran Total Masyarakat
Pengeluaran total seluruh kategori masyarakat di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir pada tahun 2025 merupakan yang terendah di seluruh Sumatera Selatan. Dibandingkan dengan Kota Palembang yang berada di urutan pertama dengan total pengeluaran 1973663 Rupiah per kapita per bulan, nilai di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir kurang dari setengah nilai tersebut. Pertumbuhan total pengeluaran wilayah ini juga mengalami penurunan sebesar 6,9 persen pada tahun 2025, menjadi salah satu penurunan terbesar di provinsi ini setelah Kabupaten Musi Rawas.
Struktur Pengeluaran Makanan
Untuk kategori pengeluaran makanan secara keseluruhan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir juga tercatat memiliki nilai terendah di Sumatera Selatan dengan nilai 571463 Rupiah per kapita per bulan. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 9,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi penurunan terbesar kedua untuk kategori ini setelah Kabupaten Musi Rawas. Pengeluaran makanan dan minuman jadi menjadi bagian terkecil dari seluruh pengeluaran makanan masyarakat di wilayah ini, dibandingkan pengeluaran untuk bahan makanan mentah yang masih mendominasi.
Pergerakan Data 8 Tahun
Sepanjang 8 tahun pengamatan, tidak terjadi pertumbuhan konsisten pada pengeluaran makanan dan minuman jadi di wilayah ini. Kenaikan terbesar pernah tercatat pada tahun 2019 sebesar 33,9 persen, sementara penurunan terbesar terjadi pada tahun 2021 sebesar 10,9 persen. Rata-rata pertumbuhan tahunan selama 8 tahun terakhir hanya berada pada angka 5,9 persen per tahun. Angka ini masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan inflasi nasional selama periode yang sama.