Pengeluaran untuk sabun mandi di Kabupaten Aceh Barat menunjukkan fluktuasi menarik sepanjang tahun 2018 hingga 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada tahun 2024, pengeluaran untuk sabun mandi mencapai Rp 56.843 per kapita per bulan.
Angka ini mengalami penurunan turun 10.4% dibandingkan tahun sebelumnya. Padahal, periode 2018-2023 menunjukkan tren kenaikan yang cukup signifikan, dimana pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2021, mencapai 14.7%.
(Baca: Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Level Rp. 16.565,9 per Dolar AS (Selasa, 07 Oktober 2025))
Secara keseluruhan, pengeluaran untuk sabun mandi di Kabupaten Aceh Barat mengalami pertumbuhan dari Rp 40.671 pada tahun 2018 menjadi Rp 56.843 pada tahun 2024, atau meningkat sekitar 39.7%. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya kebersihan diri.
Namun, jika dibandingkan dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang dan jasa sebesar Rp 201.873, pengeluaran untuk sabun mandi hanya menyumbang sekitar 28%. Angka ini menunjukkan bahwa pengeluaran untuk sabun mandi masih relatif kecil dibandingkan dengan kebutuhan lainnya.
Di antara kabupaten/kota se-Provinsi Aceh, Kabupaten Aceh Barat menduduki peringkat ke-12 dalam hal pengeluaran untuk sabun mandi. Kota Sabang menempati peringkat pertama dengan nilai pengeluaran Rp 114.991 per kapita per bulan.
(Baca: PDB Paritas Data Beli (PPP) Yaman 2015 - 2024)
Jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Aceh, pertumbuhan pengeluaran sabun mandi di Kabupaten Aceh Barat pada tahun 2024 menunjukkan hasil yang kurang menggembirakan. Misalnya, Kota Sabang mencatat pertumbuhan sebesar 6%, sementara Kabupaten Bener Meriah mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu 16.6%.
Kota Banda Aceh
Berdasarkan data BPS, Kota Banda Aceh mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan sebesar Rp 1.371.277 pada tahun 2024. Angka ini menempatkan Kota Banda Aceh pada peringkat pertama se-Provinsi Aceh. Pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya adalah 5.8%, menunjukkan stabilitas dalam pengeluaran non-makanan di ibukota provinsi. Sementara itu, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan mencapai Rp 1.031.407, menempatkan kota ini di urutan kedua se-Aceh.
Kota Lhokseumawe
Kota Lhokseumawe menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam pengeluaran bukan makanan, mencapai 43.4% dan menduduki peringkat kedua se-Provinsi Aceh dengan nilai Rp 893.134. Sementara itu, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan adalah Rp 798.985, dengan pertumbuhan 35.1%. Hal ini menunjukkan peningkatan kesejahteraan dan perubahan pola konsumsi masyarakat Lhokseumawe.
Kota Sabang
Kota Sabang mencatatkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan sebesar Rp 764.253, dengan pertumbuhan 7.7%. Peringkat kota ini adalah ketiga se-Provinsi Aceh. Untuk pengeluaran makanan, Kota Sabang mencatat Rp 890.314, dengan pertumbuhan 4.2%. Kota ini menunjukkan keseimbangan antara pengeluaran untuk makanan dan non-makanan, serta pertumbuhan yang stabil di kedua sektor.
Kabupaten Bener Meriah
Kabupaten Bener Meriah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam pengeluaran bukan makanan, mencapai 34.6% dengan nilai Rp 716.407. Peringkat kabupaten ini adalah keempat se-Provinsi Aceh. Sementara itu, pengeluaran untuk makanan mencapai Rp 958.426, dengan pertumbuhan 32.4%. Hal ini menunjukkan peningkatan kesejahteraan masyarakat Bener Meriah, dengan pertumbuhan yang tinggi di sektor makanan dan non-makanan.