Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, besar pengeluaran untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Gunung Kidul mencapai Rp98.686 per kapita per bulan pada tahun 2024.
Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 9,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengeluaran untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Gunung Kidul menduduki peringkat ke-4 di antara kabupaten/kota se-DI Yogyakarta dan peringkat ke-422 secara nasional. Di tingkat pulau Jawa, Kabupaten Gunung Kidul berada di peringkat ke-101 dalam hal pengeluaran untuk rokok dan tembakau.
(Baca: Jumlah Perceraian di Bengkulu Periode 2019-2024)
Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang dan jasa di Kabupaten Gunung Kidul adalah Rp188.384. Ini berarti, sekitar 52,4 persen dari total pengeluaran tersebut dialokasikan untuk rokok dan tembakau. Jika dibandingkan dengan pengeluaran untuk makanan jadi sebesar Rp162.224, proporsi pengeluaran untuk rokok dan tembakau juga cukup signifikan. Pengeluaran untuk rokok dan tembakau lebih besar dari pengeluaran untuk kecantikan (Rp26.386), perawatan (Rp35.162), dan sabun mandi (Rp48.431).
Secara historis, pengeluaran untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Gunung Kidul mengalami fluktuasi. Pada tahun 2019 sempat sedikit turun turun 7,2 persen menjadi Rp63.885 dari Rp68.860 pada tahun 2018. Kemudian, sempat sedikit naik sebesar 4,7 persen menjadi Rp66.867 pada tahun 2020 dan kembali sedikit turun 1,9 persen menjadi Rp65.592 pada tahun 2021. Namun, sejak tahun 2022, pengeluaran ini terus mengalami kenaikan, bahkan pada tahun 2023, terjadi kenaikan tertinggi sebesar 24,6 persen menjadi Rp89.812.
Di antara kabupaten/kota lain di DI Yogyakarta, Kabupaten Sleman mencatatkan pengeluaran tertinggi untuk rokok dan tembakau pada tahun 2024, yaitu sebesar Rp142.067 dengan pertumbuhan 14,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kota Yogyakarta berada di urutan kedua dengan pengeluaran Rp120.881 dan pertumbuhan 17,1 persen. Kabupaten Bantul berada di urutan ketiga dengan pengeluaran Rp113.055 dan pertumbuhan 4 persen. Kabupaten Kulonprogo berada di urutan terakhir dengan pengeluaran Rp88.569 dan pertumbuhan 1,1 persen.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Aneka Barang dan Jasa di Kab. Wakatobi 2018 - 2024)
#### Kota YogyakartaKota Yogyakarta menunjukkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan tertinggi di DI Yogyakarta, mencapai Rp1.414.471 pada tahun 2024. Angka ini hampir sama dengan tahun sebelumnya, menunjukkan pertumbuhan stagnan. Peringkat Kota Yogyakarta tetap yang tertinggi di antara kabupaten/kota di DI Yogyakarta. Namun, hal ini kontras dengan pertumbuhan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan yang juga tertinggi, mencapai Rp833.785 dengan pertumbuhan 19,2 persen. Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Kota Yogyakarta mencapai Rp2.248.256, tetap menduduki peringkat pertama di DI Yogyakarta meski hanya mengalami sedikit pertumbuhan 0,2 persen.
#### Kabupaten SlemanKabupaten Sleman menunjukkan dinamika yang menarik dalam pengeluaran per kapita. Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 24,1 persen, mencapai Rp1.297.903 pada tahun 2024. Meskipun demikian, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan justru mencatatkan nilai tertinggi di DI Yogyakarta, yaitu Rp884.007 dengan pertumbuhan 18,9 persen. Namun, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan mengalami penurunan turun 15 persen, menjadi Rp2.181.910. Meskipun turun, Kabupaten Sleman tetap menduduki peringkat kedua di DI Yogyakarta.
#### Kabupaten BantulKabupaten Bantul mencatatkan pertumbuhan yang signifikan dalam pengeluaran per kapita bukan makanan, mencapai 18,9 persen menjadi Rp976.696 pada tahun 2024. Ini menempatkan Kabupaten Bantul pada peringkat ketiga di DI Yogyakarta. Pertumbuhan ini sejalan dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan, yang juga meningkat sebesar 18,6 persen menjadi Rp753.854. Namun, berbeda dengan Sleman, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Bantul mengalami penurunan turun 15,6 persen menjadi Rp1.730.550, meskipun tetap berada di peringkat ketiga di antara kabupaten/kota di DI Yogyakarta.