Pengeluaran untuk aneka barang dan jasa di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, mencapai Rp 251.572 per kapita per bulan pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan sedikit penurunan turun 1.2% dibandingkan tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar Rp 254.567. Data ini bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), yang diperoleh melalui data Susenas.
Jika dibandingkan dengan total pengeluaran masyarakat Wakatobi per kapita sebulan yang mencapai Rp 1.164.519, pengeluaran untuk aneka barang dan jasa menyumbang sekitar 21.6%. Sementara itu, jika dibandingkan dengan pengeluaran untuk bukan makanan sebesar Rp 559.153, maka pengeluaran untuk aneka barang dan jasa mencakup sekitar 45%. Hal ini mengindikasikan bahwa alokasi anggaran untuk kebutuhan non-primer cukup signifikan di kalangan masyarakat Wakatobi.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan di DI Yogyakarta 2015 - 2024)
Secara historis, pengeluaran untuk aneka barang dan jasa di Wakatobi cenderung fluktuatif. Pada periode 2018-2024, terlihat adanya fase naik dan turun. Setelah mengalami penurunan dari Rp 166.409 pada tahun 2018 menjadi Rp 144.247 pada tahun 2019, terjadi kenaikan signifikan pada tahun 2020 menjadi Rp 159.187, dan terus naik hingga Rp 169.461 pada tahun 2021. Kemudian terjadi penurunan pada tahun 2022 ke angka Rp 164.140, namun pada tahun 2023 terjadi lonjakan tajam menjadi Rp 254.567, sebelum akhirnya sedikit menurun di tahun 2024. Lonjakan pengeluaran di tahun 2023 menjadi sebuah anomali bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Pada tahun 2024, total pengeluaran masyarakat Wakatobi menunjukkan nilai yang cukup besar, yaitu Rp 1.164.519 per kapita per bulan. Namun, angka ini mengalami penurunan turun 11.9% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 1.321.592. Penurunan ini mempengaruhi alokasi pengeluaran untuk berbagai kebutuhan, termasuk aneka barang dan jasa.
Dalam skala regional, Kabupaten Wakatobi menempati urutan ke-2 dari 17 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara dalam hal pengeluaran untuk aneka barang dan jasa pada tahun 2024, dengan Kota Kendari berada di urutan pertama. Secara nasional, Wakatobi berada di peringkat 209. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat konsumsi masyarakat Wakatobi untuk barang dan jasa non-primer relatif tinggi dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan data BPS, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Kota Kendari pada tahun 2024 mencapai Rp 1.783.409, mengalami penurunan turun 5.1% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, Kabupaten Kolaka Utara mencatatkan pengeluaran sebesar Rp 1.599.452, dengan pertumbuhan 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Kabupaten Konawe Utara mencatatkan pengeluaran sebesar Rp 1.674.005 atau terjadi penurunan turun 11.9%. Selanjutnya, Kota Bau-Bau pengeluaran sebesar Rp 1.232.135 atau terjadi penurunan -2.8%. Untuk Kabupaten Kolaka sebesar Rp 1.285.548 dengan penurunan turun 4.1%.
Jika dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun terakhir (2021-2023), pengeluaran untuk aneka barang dan jasa di Wakatobi pada tahun 2024 menunjukkan nilai yang lebih tinggi. Namun, jika dibandingkan dengan rata-rata lima tahun terakhir (2019-2023), nilai pengeluaran tahun 2024 juga menunjukkan tren yang sama. Ini mengindikasikan bahwa tingkat konsumsi masyarakat Wakatobi untuk aneka barang dan jasa cenderung meningkat dalam jangka panjang. Pada tahun 2023, pengeluaran mengalami kenaikan tertinggi.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kota Bau Bau Periode 2004 - 2024)
Rata-rata pengeluaran untuk aneka barang dan jasa tertinggi terjadi pada tahun 2023, yang menunjukkan adanya peningkatan konsumsi yang signifikan pada periode tersebut. Sementara itu, pengeluaran terendah terjadi pada tahun 2019. Secara keseluruhan, data ini memberikan gambaran mengenai pola konsumsi masyarakat Wakatobi yang perlu diperhatikan untuk perencanaan ekonomi dan kebijakan yang lebih efektif.
Kota Kendari
Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Kota Kendari mencapai Rp 769.676 pada tahun 2024, meningkat 8.9% dari tahun sebelumnya. Data ini menempatkan Kendari pada peringkat kedua di Sulawesi Tenggara. Pengeluaran bukan makanan juga tinggi, mencapai Rp 1.013.733, menunjukkan konsumsi yang kuat di berbagai sektor. Kondisi ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Kendari yang cukup signifikan.
Kabupaten Konawe Utara
Kabupaten Konawe Utara menunjukkan dinamika menarik dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk bukan makanan mencapai Rp 861.907 pada tahun 2024, meningkat 31.5% dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini menempatkan Konawe Utara pada peringkat kedua di Sulawesi Tenggara. Namun, pengeluaran untuk makanan mencapai Rp 812.097, pertumbuhan 8.8% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Konawe Utara semakin mengalokasikan lebih banyak dana untuk kebutuhan non-primer.
Kabupaten Kolaka Utara
Pada tahun 2024, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Kabupaten Kolaka Utara mencapai Rp 739.715, meningkat 9.4% dari tahun sebelumnya, menempatkannya pada peringkat ketiga di Sulawesi Tenggara. Sementara itu, pengeluaran untuk bukan makanan mencapai Rp 859.737, menunjukkan peningkatan konsumsi di sektor non-primer. Pertumbuhan ekonomi yang stabil di Kolaka Utara tercermin dari peningkatan konsumsi baik untuk makanan maupun bukan makanan.
Kota Bau-Bau
Kota Bau-Bau mencatatkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk bukan makanan sebesar Rp 735.519 pada tahun 2024, meningkat 6.1% dari tahun sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan pengeluaran untuk makanan yang mencapai Rp 496.616, terlihat adanya perbedaan alokasi anggaran yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Kota Bau-Bau lebih memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan non-primer dibandingkan makanan.
Kabupaten Kolaka
Kabupaten Kolaka menunjukkan pertumbuhan yang kuat di sektor makanan, dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan mencapai Rp 703.772 pada tahun 2024, meningkat 26% dari tahun sebelumnya dan menempati urutan keempat di Sulawesi Tenggara. Namun, pengeluaran untuk bukan makanan mencapai Rp 581.776, pertumbuhan 7.1% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan masyarakat Kolaka lebih banyak dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan makanan.