Bursa Efek Indonesia (BEI) mengevaluasi sejumlah indeks saham pada April 2026, salah satunya indeks LQ45.
LQ45 adalah indeks yang mengukur kinerja harga saham milik 45 emiten dengan likuiditas tinggi, kapitalisasi pasar besar, serta fundamental perusahaan yang baik.
Untuk periode 4 Mei-31 Juli 2026, BEI menghapus lima emiten dari indeks LQ45, yaitu:
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
- PT Ciputra Development Tbk (CTRA)
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
- PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL)
- PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)
Sebagai gantinya, ada lima emiten yang masuk indeks LQ45 periode 4 Mei-31 Juli 2026, yaitu:
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA)
- PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA)
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA)
- PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
Emiten yang masuk indeks LQ45 periode 4 Mei-31 Juli 2026 memiliki rasio free float antara 10% sampai 71%.
Free float merujuk pada jumlah saham tanpa warkat, yakni saham perusahaan yang dapat diperdagangkan secara bebas oleh publik.
Saham free float tidak termasuk saham yang dimiliki pemegang saham besar, seperti pengendali atau afiliasi perusahaan, anggota dewan komisaris, anggota direksi, serta bukan saham yang telah dibeli kembali oleh perusahaan (buyback).
Menurut Maybank Sekuritas Indonesia, saham dengan free float tinggi umumnya lebih mudah diperjualbelikan dan cenderung memiliki harga yang lebih stabil.
Sebaliknya, saham dengan free float rendah bisa mengalami fluktuasi harga tajam, karena jumlah saham yang tersedia di pasar terbatas.
Dari seluruh emiten LQ45 periode 4 Mei-31 Juli 2026, rasio free float tertinggi dimiliki PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), sedangkan rasio terendah dimiliki PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).
Berikut rincian rasio free float saham 45 emiten dalam indeks LQ45 periode 4 Mei-31 Juli 2026, diurutkan dari yang tertinggi:
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO): 71,44%
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA): 62,19%
- PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA): 54,69%
- PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI): 49%
- PT Semen Indonesia Tbk (SMGR): 48,53%
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF): 48,24%
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): 47,85%
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): 46,97%
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): 46,28%
- PT Astra International Tbk (ASII): 43,92%
- PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS): 43,03%
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): 42,59%
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI): 41,44%
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT): 41,03%
- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA): 41,03%
- PT Indah Kiat Pulp & Paper Corp Tbk (INKP): 40,21%
- PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI): 40,02%
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): 39,16%
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): 38,92%
- PT Kalbe Farma Tbk (KLBF): 38,31%
- PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN): 35,24%
- PT United Tractors Tbk (UNTR): 34,96%
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): 34,84%
- PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN): 34,14%
- PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG): 33,41%
- PT Bukit Asam Tbk (PTBA): 32,76%
- PT AKR Corporindo Tbk (AKRA): 32,66%
- PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR): 32,57%
- PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL): 30,57%
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA): 28,46%
- PT Alam Sutera Realty Tbk (ADRO): 28,34%
- PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK): 26,93%
- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA): 26,77%
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT): 26,73%
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC): 24,26%
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO): 20,40%
- PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP): 19,47%
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): 19,34%
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): 18,99%
- PT Indosat Tbk (ISAT): 16,33%
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): 14,94%
- PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR): 14,06%
- PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR): 11,75%
- PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO): 10,94%
- PT Surya Citra Media Tbk (SCMA): 10,58%