Nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau melemah. Dihimpun dari Investing.com, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah menyentuh Rp17.293 pada pukul 13.30 WIB.
Nilai rupiah tersebut menurun 136,8 poin dan 0,80% dari perdagangan sebelumnya.
Pada sesi pagi hari, rupiah bahkan sempat menyentuh level 17.300 menurut data yang dipublikasikan Bloomberg per 10.33 WIB.
Melansir Katadata, menurut pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, terdapat faktor eksternal dan internal yang diduga menjadi penyebab jatuhnya nilai tukar rupiah.
Ia mengatakan melemahnya rupiah ke angka di atas 17.00 ini lebih cepat dari perkiraan semula yang diprediksi di akhir April 2026.
Dari segi eksternal, kondisi ketegangan geopolitik antara Iran dengan Israel dan AS menjadi salah satu penyebabnya.
“Dalam pertemuan di minggu ini antara AS dan Iran yang difasilitasi oleh Pakistan, Iran tidak ikut dalam perundingan tersebut dikarenakan AS sudah menyalahi aturan dalam gencatan senjata dengan melakukan penangkapan, penguasaan terhadap kapal tanker Iran yang melewati Selat Hormuz,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (23/4/2024).
Iran, kata dia, sudah tidak percaya lagi dengan AS dan siap untuk melakukan perang panjang.
Situasi diperkeruh dengan klaim gencatan senjata sepihak oleh AS yang menyelipkan sejumlah syarat yaitu melarang Iran mengenakan tarif untuk Selat Hormuz dan mengambil uranium lalu disimpan di AS.
“Nah, dua ini yang kemungkinan besar tidak akan bisa diterima oleh Iran. Karena itu adalah salah satu hak kewajiban dari suatu negara. Sehingga Iran tidak mau diintervensi oleh amerika. Itu dari segi eksternal,” kata Ibrahim.
Di sisi lain, tambah Ibrahim, utang pemerintah saat ini mendekati jatuh tempo yang begitu besar, yang mempengaruhi kinerja dari pemerintah sendiri.
Faktor teranyar di internal yakni dampak pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi namun tidak dengan BBM subsidi.
“Tidak menaikkan harga bbm subsidi ini membuat subsidi pemerintah semakin besar, sehingga harus mencari anggaran-anggaran dari tempat lain untuk membantu subsidi terhadap pertalite. Nah ini yg bisa membuat defisit anggaran kembali lagi mengalami pelebaran,” kata Ibrahim.
(Baca: Rupiah Masuk Jajaran Mata Uang Terlemah di Dunia Awal April 2026)