Data yang dikoleksi Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, perkembangan indeks saham unggulan LQ45 dan BUMN20 bergerak fluktuatif sepanjang 2025.
Indeks saham LQ45 berkisar 660-860 poin per hari selama setahun. Sementara indeks BUMN sebesar 290-380 poin.
Kendati demikian, bila angka indeks diposisikan di level yang sama 100 poin, indeks BUMN20 menunjukkan kinerja yang relatif lebih kuat dibandingkan dengan LQ45.
Keduanya sempat mengalami penurunan tajam pada kuartal pertama, namun penurunan LQ45 terlihat lebih dalam.
Memasuki kuartal kedua hingga pertengahan tahun, BUMN20 pulih lebih cepat dan sempat mencatat kenaikan signifikan di atas level awal, sementara LQ45 bergerak naik lebih bertahap dan cenderung lebih volatil.
Pada semester II, kedua indeks kembali menguat, tetapi hingga akhir periode BUMN20 tetap berada di level yang lebih tinggi dibanding LQ45.
(Baca Katadata: Skenario Besar Danantara 2026: Valuasi BUMN Diuji Hilirisasi dan Restrukturisasi)
Menurut pemberitaan Katadata, indeks LQ45, yang didominasi saham-saham blue chip termasuk BUMN besar, memang tertinggal dibandingkan dengan indeks acuan lain, bahkan negara berkembang lainnya.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, indeks LQ45 hanya tumbuh 2,41% sepanjang 2025. Torehan tersebut jauh di bawah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 22,13% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan menutup tahun di level 8.646. Sepanjang 2025, IHSG bahkan mencetak rekor tertinggi sebanyak 24 kali.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menilai ketertinggalan ini mencerminkan kehati-hatian investor terhadap risiko struktural, bukan semata lemahnya fundamental emiten.
Walau begitu, Danantara optimistis kinerja saham-saham unggulan berlikuiditas tinggi yang tergabung dalam indeks LQ45 dapat didongkrak tahun ini.
(Baca Katadata: Danantara Klaim Punya Jurus Pulihkan Saham Unggulan LQ45 Tahun Ini)
Dalam laporan Danantara Economic Outlook 2026, lembaga ini menyebut sejumlah inisiatif yang dinilai mampu mendorong kinerja emiten di BEI. Katalis utama antara lain potensi perluasan program unggulan pemerintah, seperti pemberian makanan gratis serta penyaluran modal Danantara ke proyek-proyek investasi yang berorientasi pada pertumbuhan.
“Jika dieksekusi secara efektif, inisiatif-inisiatif ini seharusnya memberikan dorongan permintaan yang lebih jelas, mengurangi risiko penurunan pendapatan dan mendukung pembentukan kredit,” tulis Danantara dalam Danantara Economic Outlook 2025 yang dikutip Katadata pada Selasa, (13/1/2026).
Danantara juga menilai pemerintah masih mempertahankan stimulus yang bersifat terarah, dengan potensi dampak yang berlanjut hingga 2026. Kebijakan tersebut mencakup insentif pajak, keringanan asuransi serta dukungan kredit melalui bank-bank milik negara. Langkah-langkah ini dinilai dapat menjadi katalis penting bagi perekonomian domestik.
“Seiring waktu, inisiatif-inisiatif ini seharusnya menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat bagi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa saham,” tulis Danantara.
(Baca juga: IHSG Naik 22% pada 2025, Tertinggi Sedekade Terakhir)