Kementerian LHK: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 362 Dalam 24 Jam Terakhir (Kamis, 29 Februari 2024)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 362 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 133 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Kamis (29/2/2024) pukul 08.51 WIB. Dari 362 titik panas terdeteksi, 10 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 334 titik skala sedang, dan 18 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Titik Panas Karhutla di Sumsel Bertambah pada Pertengahan Oktober 2023)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 74 titik. Riau menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 73 titik. Sulawesi Tengah berada di posisi ketiga sebanyak 57 titik panas.
Sebanyak 20 titik panas terdeteksi di Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara menyusul dengan 19 titik panas, serta Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara masing-masing memiliki 17 dan 12 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Kalimantan Barat Hasilkan Emisi CO2 dari Karhutla Terbanyak sampai Juli 2023)