Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai PDRB ADHB Konstruksi Kepulauan Bangka Belitung pada kuartal terakhir tahun 2025 (Q4 2025) sebesar Rp 2670,73 miliar. Dibandingkan rata-rata tiga kuartal sebelumnya (Q1-Q3 2025) yang mencapai Rp 2365,34 miliar, nilai ini mengalami peningkatan sebesar Rp 305,39 miliar. Sementara itu, dibandingkan rata-rata lima kuartal terakhir (Q4 2024 hingga Q3 2025) sebesar Rp 2467,98 miliar, Q4 2025 juga menunjukkan kenaikan sebesar Rp 202,75 miliar. Dalam perkembangan historis sejak 2010, pertumbuhan tertinggi terjadi pada kuartal kedua tahun 2012 sebesar 10,37%, sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada kuartal keempat tahun 2024 turun 14,12%. Ranking Kepulauan Bangka Belitung di pulau Sumatera tetap berada di posisi ke-9 selama semua periode data, sedangkan ranking nasionalnya berada di posisi ke-29 pada Q4 2025, sama seperti kuartal sebelumnya, setelah sempat naik ke posisi 28 pada beberapa kuartal tahun 2023.
(Baca: PDRB ADHB di Kabupaten Gresik Menurut Sektor pada 2024)
Papua
Papua menempati peringkat ke-1 di pulau Papua dan peringkat ke-26 nasional dalam Nilai PDRB ADHB Konstruksi pada kuartal terakhir. Nilai kuartal terakhirnya sebesar Rp 4551,55 miliar, dengan pertumbuhan sebesar 5,58% dibandingkan kuartal sebelumnya. Selisih nilai dengan kuartal sebelumnya adalah Rp 240,48 miliar, dan nilai dua kuartal sebelumnya mencapai Rp 4238,31 miliar. Dibandingkan rata-rata tiga kuartal terakhir, nilai Q4 Papua menunjukkan peningkatan yang signifikan, menjadikannya provinsi dengan nilai tertinggi di antara provinsi perbandingan. Perkembangan nilai ini menunjukkan bahwa sektor konstruksi di Papua tetap menjadi pilar penting dalam ekonomi daerah, dengan pertumbuhan yang stabil dibandingkan provinsi lain dalam kelompok perbandingan. Meskipun tidak memiliki pertumbuhan tertinggi, nilai absolutnya yang besar menunjukkan bahwa sektor ini menyerap banyak investasi dan tenaga kerja di daerah Papua.
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur menempati peringkat ke-3 di pulau Nusa Tenggara dan Bali serta peringkat ke-27 nasional. Nilai PDRB ADHB Konstruksi kuartal terakhirnya sebesar Rp 4187,66 miliar, dengan pertumbuhan sebesar 13,98% dibandingkan kuartal sebelumnya—yang merupakan pertumbuhan tertinggi di antara provinsi perbandingan. Selisih nilai dengan kuartal sebelumnya adalah Rp 513,79 miliar, dan nilai dua kuartal sebelumnya sebesar Rp 3301,30 miliar. Rata-rata nilai tiga kuartal terakhir menunjukkan tren peningkatan yang pesat, yang menunjukkan bahwa sektor konstruksi di Nusa Tenggara Timur sedang mengalami ekspansi yang signifikan, mungkin didorong oleh proyek infrastruktur besar seperti pembangunan jalan raya, bandara, dan fasilitas umum yang sedang berjalan di daerah ini. Pertumbuhan yang tinggi ini juga menunjukkan bahwa daerah ini semakin menarik investasi di sektor konstruksi, baik dari pemerintah maupun swasta.
Papua Tengah
Papua Tengah menempati peringkat ke-2 di pulau Papua dan peringkat ke-28 nasional. Nilai PDRB ADHB Konstruksi kuartal terakhirnya sebesar Rp 2772,37 miliar, dengan pertumbuhan sebesar 2,96% dibandingkan kuartal sebelumnya. Selisih nilai dengan kuartal sebelumnya adalah Rp 79,71 miliar, dan nilai dua kuartal sebelumnya sebesar Rp 2640,89 miliar. Dibandingkan rata-rata tiga kuartal terakhir, nilai Q4 Papua Tengah hanya mengalami peningkatan sedikit, yang menunjukkan bahwa sektor konstruksi di daerah ini sedang dalam tahap stabilisasi setelah periode pertumbuhan sebelumnya. Meskipun peringkatnya lebih tinggi dari beberapa provinsi lain, pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan Papua dan Nusa Tenggara Timur, yang mungkin disebabkan oleh keterbatasan sumber daya atau regulasi yang lebih ketat dalam pengembangan konstruksi di daerah ini. Namun, nilai absolutnya yang masih besar menunjukkan bahwa sektor ini tetap menjadi bagian penting dari ekonomi Papua Tengah.
(Baca: PDRB ADHB di Kabupaten Lamandau Menurut Sektor pada 2024)
Papua Selatan
Papua Selatan menempati peringkat ke-3 di pulau Papua dan peringkat ke-30 nasional. Nilai PDRB ADHB Konstruksi kuartal terakhirnya sebesar Rp 2172,34 miliar, dengan pertumbuhan sebesar 2,59% dibandingkan kuartal sebelumnya. Selisih nilai dengan kuartal sebelumnya adalah Rp 54,81 miliar, dan nilai dua kuartal sebelumnya sebesar Rp 2061,22 miliar. Rata-rata nilai tiga kuartal terakhir menunjukkan peningkatan yang lambat, yang menunjukkan bahwa sektor konstruksi di daerah ini sedang berkembang dengan pace yang lebih rendah dibandingkan provinsi lain di pulau Papua. Perkembangan ini mungkin disebabkan oleh keterbatasan akses infrastruktur dasar seperti jalan listrik dan air, yang membuatnya lebih sulit untuk menjalankan proyek konstruksi skala besar di daerah ini. Selain itu, kurangnya investasi dari luar daerah juga dapat menjadi faktor yang menyebabkan pertumbuhan yang lambat di sektor ini.
Gorontalo
Gorontalo menempati peringkat ke-5 di pulau Sulawesi dan peringkat ke-31 nasional. Nilai PDRB ADHB Konstruksi kuartal terakhirnya sebesar Rp 1757,62 miliar, dengan pertumbuhan sebesar 1,83% dibandingkan kuartal sebelumnya. Selisih nilai dengan kuartal sebelumnya adalah Rp 31,52 miliar, dan nilai dua kuartal sebelumnya sebesar Rp 1600,86 miliar. Rata-rata nilai tiga kuartal terakhir menunjukkan peningkatan yang sangat sedikit, yang menunjukkan bahwa sektor konstruksi di daerah ini sedang dalam tahap stagnasi. Meskipun nilai nya terus meningkat, pertumbuhannya adalah yang terendah di antara provinsi perbandingan, yang menunjukkan bahwa sektor ini belum berkembang dengan pesat di Gorontalo. Hal ini mungkin disebabkan oleh ukuran ekonomi yang lebih kecil dibandingkan provinsi lain, serta kurangnya proyek infrastruktur besar yang dapat mendorong pertumbuhan sektor konstruksi di daerah ini.
Papua Barat
Papua Barat menempati peringkat ke-4 di pulau Papua dan peringkat ke-32 nasional. Nilai PDRB ADHB Konstruksi kuartal terakhirnya sebesar Rp 1632,02 miliar, dengan pertumbuhan sebesar 3,62% dibandingkan kuartal sebelumnya. Selisih nilai dengan kuartal sebelumnya adalah Rp 56,96 miliar, dan nilai dua kuartal sebelumnya sebesar Rp 1565,49 miliar. Rata-rata nilai tiga kuartal terakhir menunjukkan peningkatan yang stabil, yang menunjukkan bahwa sektor konstruksi di daerah ini sedang berkembang dengan pace yang konsisten. Meskipun peringkat nasionalnya adalah yang terendah di antara provinsi perbandingan, pertumbuhannya lebih tinggi dari Gorontalo dan Papua Selatan, yang menunjukkan bahwa ada potensi untuk pengembangan lebih lanjut di sektor ini di Papua Barat. Potensi ini dapat dimanfaatkan dengan meningkatkan investasi di infrastruktur dasar dan mendorong partisipasi swasta dalam proyek konstruksi di daerah ini.