Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHB Sektor Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional Provinsi Papua pada tahun 2025 tercatat sebesar 3,55 Rp miliar. Sepanjang periode 2010 hingga 2025, nilai sektor ini menunjukkan tren kenaikan jangka panjang dengan pertumbuhan rata-rata seluruh periode sebesar 5,70 persen per tahun, namun terjadi perlambatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2025, sektor ini hanya mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,72 persen, naik sedikit sebesar 0,06 Rp miliar dibandingkan tahun 2024.
(Baca: Jumlah Sekolah SMA di Jawa Timur | 2024)
Sepanjang data historis 16 tahun, nilai tertinggi sektor ini pernah dicapai pada tahun 2022 sebesar 5,27 Rp miliar. Setelah mencapai puncak tersebut, terjadi penurunan tajam sebesar 39,66 persen pada tahun 2023, sebelum kembali pulih secara bertahap pada tahun 2024 dan 2025. Rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir tercatat negatif turun 9,40 persen, jauh lebih buruk dibandingkan rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir yang tercatat turun 4,56 persen. Selama seluruh periode, posisi Provinsi Papua selalu menduduki peringkat pertama di Pulau Papua untuk sektor ini.
Pada peringkat nasional, Provinsi Papua tercatat berada di urutan 29 se-Indonesia pada tahun 2025. Peringkat ini tidak berubah sejak tahun 2023, setelah sebelumnya mengalami penurunan peringkat dari urutan 25 pada tahun 2010 turun secara bertahap hingga posisi saat ini. Nilai PDRB sektor ini Papua masih lebih tinggi dibandingkan Papua Barat dan Maluku, namun berada dibawah Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat serta Sulawesi Barat pada daftar peringkat nasional tahun 2025.
Kalimantan Utara
Provinsi Kalimantan Utara berada di peringkat 26 se-Indonesia untuk sektor ini, dengan nilai PDRB tahun 2025 sebesar 28,09 Rp miliar. Nilai ini tumbuh sebesar 1,41 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan selisih kenaikan sebesar 0,39 Rp miliar. Secara peringkat wilayah pulau, Kalimantan Utara berada di urutan 5 di Pulau Kalimantan. Nilai sektor ini di Kalimantan Utara hampir 8 kali lipat lebih besar dibandingkan nilai yang tercatat di Provinsi Papua pada periode yang sama.
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Barat menduduki peringkat 27 nasional, dengan nilai PDRB sektor industri kimia farmasi tahun 2025 sebesar 21,89 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,39 persen pada tahun terakhir, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Papua yang hanya 1,72 persen. Di wilayah Pulau Nusa Tenggara dan Bali, provinsi ini berada di urutan 3, dengan selisih kenaikan nilai tahunan sebesar 0,51 Rp miliar.
(Baca: 0,2% Penduduk di Kabupaten Purwakarta Beragama Katolik)
Sulawesi Barat
Sulawesi Barat tercatat di peringkat 28 se-Indonesia, dengan pertumbuhan sektor ini tertinggi diantara seluruh wilayah yang dibandingkan yaitu sebesar 166,05 persen pada tahun 2025. Nilai PDRB sektor ini di Sulawesi Barat mencapai 15,75 Rp miliar, naik sebesar 9,83 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Di wilayah Pulau Sulawesi, provinsi ini berada di urutan 4, menjadi satu-satunya wilayah yang mencatatkan lonjakan pertumbuhan sangat signifikan pada tahun laporan.
Papua Barat
Papua Barat menduduki peringkat 30 se-Indonesia, satu tingkat dibawah Provinsi Papua. Nilai PDRB sektor industri kimia farmasi tahun 2025 di provinsi ini tercatat sebesar 2,84 Rp miliar, tumbuh sebesar 5,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di Pulau Papua, wilayah ini berada di urutan 2 dibawah Papua, dengan selisih kenaikan nilai tahunan sebesar 0,15 Rp miliar. Pertumbuhan Papua Barat tahun ini tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Provinsi Papua.
Maluku
Provinsi Maluku berada di peringkat 31 se-Indonesia, dengan nilai PDRB sektor industri kimia farmasi tahun 2025 sebesar 2,49 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,89 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan selisih kenaikan nilai sebesar 0,07 Rp miliar. Secara peringkat wilayah pulau Maluku, provinsi ini berada di urutan 2. Nilai sektor ini di Maluku tercatat 30 persen lebih rendah dibandingkan nilai yang tercatat di Provinsi Papua pada periode yang sama.
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tenggara menduduki peringkat paling bawah di urutan 32 se-Indonesia untuk sektor ini. Nilai PDRB tahun 2025 tercatat sebesar 1,76 Rp miliar, dengan pertumbuhan sebesar 23,94 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di wilayah Pulau Sulawesi, provinsi ini berada di urutan 5, dengan selisih kenaikan nilai tahunan sebesar 0,34 Rp miliar. Meskipun memiliki pertumbuhan cukup tinggi, nilai absolut sektor ini di Sulawesi Tenggara masih setengah dari nilai yang tercatat di Provinsi Papua.