Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat data PDRB ADHB Sektor Pertambangan Bijih Logam Provinsi Papua Tengah periode 2023 hingga 2025. Pada tahun 2025 nilai sektor ini tercatat 106611,12 Rp miliar, mengalami kontraksi pertumbuhan turun 13,41 persen dibandingkan tahun 2024 dengan penurunan nilai sebesar 16505,42 Rp miliar. Sebelumnya pada tahun 2024, sektor ini mencatat pertumbuhan positif tertinggi sebesar 20,68 persen dengan nilai puncak sebesar 123116,54 Rp miliar. Selama tiga periode, Papua Tengah tetap memegang peringkat pertama di wilayah Pulau Papua maupun peringkat pertama secara nasional. Rata-rata nilai sektor ini selama tiga tahun terakhir adalah 110581,8 Rp miliar, sehingga nilai tahun 2025 berada di bawah rata-rata periode tersebut.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Perawatan Kulit Kab. Kepulauan Yapen | 2024)
Secara tren keseluruhan sejak periode awal data 2023, sektor pertambangan bijih logam di Papua Tengah menunjukkan tren naik dengan pertumbuhan rata-rata seluruh periode sebesar 3,64 persen, serta perubahan total nilai sebesar 4,50 persen selama tiga tahun. Nilai terendah tercatat pada tahun 2023 sebesar 102017,74 Rp miliar, sebelum kemudian melonjak signifikan pada 2024 dan kembali mengalami penurunan pada tahun terakhir pencatatan. Fluktuasi nilai ini terlihat dari lonjakan lebih dari 20 persen pada 2024 yang kemudian diikuti penurunan lebih dari 13 persen pada tahun berikutnya.
Selama tiga tahun pencatatan, peringkat Papua Tengah tidak mengalami perubahan, yaitu tetap menempati urutan pertama di Pulau Papua dan urutan pertama secara nasional untuk kontribusi PDRB sektor pertambangan bijih logam. Meskipun terjadi penurunan nilai pada tahun 2025, nilai yang dicatatkan masih jauh di atas provinsi lain di seluruh Indonesia.
Papua Tengah
Papua Tengah menempati peringkat pertama nasional dengan nilai PDRB sektor pertambangan bijih logam tahun 2025 sebesar 106611,12 Rp miliar. Wilayah ini mencatat pertumbuhan -13,41 persen pada tahun terakhir, dengan penurunan nilai sebesar 16505,42 Rp miliar dibandingkan tahun 2024. Meskipun mengalami kontraksi, nilai yang dihasilkan masih lebih dari dua kali lipat dibandingkan provinsi peringkat kedua nasional, dan tetap menjadi penyumbang terbesar sektor ini di seluruh wilayah Indonesia tanpa ada pesaing yang mendekati dalam tiga tahun terakhir.
Sulawesi Tengah
(Baca: Harga Pakaian dan Alas Kaki di Tembilahan Bulan Juni Naik 0,34%)
Sulawesi Tengah berada di peringkat kedua nasional dengan nilai tahun 2025 sebesar 46327,18 Rp miliar, mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 14,49 persen. Wilayah ini mengalami peningkatan nilai sebesar 5863,79 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya, dan menjadi penyumbang terbesar sektor pertambangan bijih logam di seluruh Pulau Sulawesi. Pertumbuhan positif ini membuat jarak nilai dengan peringkat pertama mulai mengecil dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Maluku Utara
Maluku Utara menempati peringkat ketiga nasional dengan nilai PDRB tahun 2025 sebesar 27802,70 Rp miliar, mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 54,59 persen dari seluruh provinsi dalam daftar. Pertumbuhan ini diikuti peningkatan nilai sebesar 9818,01 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikan wilayah ini penyumbang terbesar sektor ini di Pulau Maluku. Tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi ini merupakan yang tercepat di antara lima provinsi teratas nasional pada tahun 2025.
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Barat berada di peringkat keempat nasional dengan nilai tahun 2025 sebesar 26395,64 Rp miliar, mengalami kontraksi pertumbuhan turun 16,12 persen. Wilayah ini mencatat penurunan nilai sebesar 5073,60 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap menjadi penyumbang terbesar sektor pertambangan bijih logam di wilayah Nusa Tenggara dan Bali. Penurunan yang terjadi pada wilayah ini bahkan sedikit lebih besar dibandingkan penurunan yang dialami Papua Tengah pada tahun yang sama.
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tenggara menempati peringkat kelima nasional dan peringkat kedua di Pulau Sulawesi dengan nilai tahun 2025 sebesar 23984,79 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sedikit sebesar 4,13 persen dengan peningkatan nilai sebesar 950,60 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan yang terjadi lebih rendah dibandingkan Sulawesi Tengah, sehingga peringkat wilayah ini tidak berubah dan tetap berada di urutan terbawah dari lima provinsi penyumbang terbesar sektor pertambangan bijih logam nasional.