Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, PDRB Pengeluaran Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menurut Provinsi Maluku Utara dengan harga konstan 2010 mencapai Rp 26.554,82 juta pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 10,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun terjadi pertumbuhan, nilai ini sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan tahunan selama lima tahun terakhir. Terlihat adanya fluktuasi, dimana pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2020 sebesar 82,82%, namun sempat mengalami penurunan pada tahun 2023 turun 19,59%.
Secara historis, nilai PDRB PMTB Maluku Utara mengalami peningkatan signifikan dari Rp 3.431,17 juta pada tahun 2010 menjadi Rp 26.554,82 juta pada tahun 2024. Pertumbuhan tertinggi dalam periode ini terjadi pada tahun 2020, menunjukkan adanya anomali yang perlu dianalisis lebih lanjut. Meski sempat mengalami kontraksi pada tahun 2023, namun kembali pulih dan mencatatkan pertumbuhan positif di tahun 2024. Hal ini mengindikasikan adanya dinamika perekonomian yang cukup tinggi di Maluku Utara.
(Baca: Harga Beras Kualitas Bawah I di Pasar Tradisional Periode Januari 2025-2025)
Dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Maluku, Maluku Utara menduduki peringkat pertama dalam kontribusi PDRB PMTB. Secara nasional, Maluku Utara berada pada peringkat ke-26. Posisi ini menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dimana Maluku Utara sempat berada di peringkat ke-29. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan dalam kinerja investasi dan pembentukan modal di Maluku Utara dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.
Kenaikan tertinggi PDRB PMTB Maluku Utara terjadi pada tahun 2020 dengan pertumbuhan mencapai 82,82%. Hal ini kemungkinan dipicu oleh adanya proyek-proyek investasi besar yang masuk ke Maluku Utara pada tahun tersebut. Sementara itu, penurunan terendah terjadi pada tahun 2023 dengan kontraksi turun 19,59%. Kondisi ini bisa disebabkan oleh faktor eksternal seperti penurunan harga komoditas atau perubahan kebijakan investasi.
Secara keseluruhan, PDRB PMTB Maluku Utara menunjukkan tren yang positif dalam jangka panjang. Meskipun terdapat fluktuasi dari tahun ke tahun, namun secara umum terjadi peningkatan nilai dan perbaikan peringkat baik di tingkat regional maupun nasional. Pemerintah daerah perlu terus berupaya untuk menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan daya saing investasi agar pertumbuhan PDRB PMTB dapat terus berlanjut di masa depan.
Nusa Tenggara Barat
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatatkan nilai PDRB PMTB sebesar Rp 34.798,33 juta. Dengan pertumbuhan sebesar 3,11%, NTB menduduki peringkat ke-23 secara nasional dan peringkat ke-2 di wilayah Nusa Tenggara dan Bali. Meski demikian, pertumbuhan ini sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir. Selisih nilai dengan tahun sebelumnya menunjukkan peningkatan sebesar Rp 1.049,8 juta.
(Baca: Populasi Sapi Potong Jantan yang Bisa Dipotong Periode 2013-2024)
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatatkan nilai PDRB PMTB sebesar Rp 34.755,83 juta. Dengan pertumbuhan sebesar 1,35%, NTT menduduki peringkat ke-24 secara nasional dan peringkat ke-3 di wilayah Nusa Tenggara dan Bali. Pertumbuhan yang moderat ini menunjukkan stabilitas ekonomi di NTT. Selisih nilai dengan tahun sebelumnya menunjukkan peningkatan sebesar Rp 461,35 juta. Pertumbuhan ini menempatkan NTT di posisi yang cukup stabil di antara provinsi-provinsi lainnya.
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta (DIY) mencatatkan nilai PDRB PMTB sebesar Rp 34.215,01 juta. DIY menunjukkan pertumbuhan sebesar 7,9% dan menduduki peringkat ke-25 secara nasional dan peringkat ke-6 di Pulau Jawa. DIY mengalami selisih nilai dengan tahun sebelumnya sebesar Rp 2.505,96 juta. Pertumbuhan ini terbilang signifikan, menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang cukup dinamis di wilayah tersebut.
Bengkulu
Bengkulu mencatatkan nilai PDRB PMTB sebesar Rp 23.024,49 juta. Bengkulu menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,87% dan menduduki peringkat ke-27 secara nasional dan peringkat ke-9 di Pulau Sumatera. Bengkulu mengalami selisih nilai dengan tahun sebelumnya sebesar Rp 641,39 juta. Angka ini menunjukkan bahwa Bengkulu terus berupaya untuk meningkatkan investasi dan pembentukan modalnya.
Kalimantan Utara
Kalimantan Utara (Kaltara) mencatatkan nilai PDRB PMTB sebesar Rp 22.210,3 juta. Dengan pertumbuhan sebesar 6,84%, Kaltara menduduki peringkat ke-28 secara nasional dan peringkat ke-5 di Pulau Kalimantan. Kaltara mencatatkan selisih nilai dengan tahun sebelumnya sebesar Rp 1.421,35 juta. Pertumbuhan positif ini menunjukkan potensi ekonomi yang besar di Kaltara, terutama dalam sektor pertambangan dan energi.
Papua
Papua mencatatkan nilai PDRB PMTB sebesar Rp 18.315,76 juta. Papua mengalami penurunan pertumbuhan turun 63,48% dan menduduki peringkat ke-29 secara nasional dan peringkat pertama di Pulau Papua. Papua mengalami selisih nilai dengan tahun sebelumnya yang cukup besar, yaitu penurunan sebesar Rp 31.838,97 juta. Penurunan ini menjadi anomali dan perlu diinvestigasi lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor penyebabnya.