Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHK Sektor Tanaman Perkebunan Provinsi Bengkulu pada akhir tahun 2025 mencapai nilai 2687,29 Rp miliar. Selama periode 2010 hingga 2025, sektor ini tercatat selalu mengalami kenaikan nilai setiap tahun tanpa pernah terjadi penurunan satu kali pun. Sepanjang 16 tahun periode pencatatan, nilai PDRB sektor ini meningkat total sebesar 91,81% dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 4,44%.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan di Sumatera Barat 2025)
Pada tahun 2025, sektor tanaman perkebunan Bengkulu mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,99%. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir yang hanya 3,93%, juga lebih tinggi dibanding rata-rata 5 tahun terakhir sebesar 4,59%. Kenaikan tertinggi sepanjang sejarah tercatat pada tahun 2025 dengan penambahan nilai sebesar 175,68 Rp miliar, sedangkan kenaikan terendah terjadi pada tahun 2016 dengan penambahan nilai hanya 27 Rp miliar.
Selama 16 tahun periode data, peringkat Bengkulu di lingkup Pulau Sumatera secara konsisten berada di urutan ke-9. Sementara untuk peringkat nasional, Bengkulu bergerak di kisaran urutan 23 hingga 24, dengan posisi terakhir tahun 2025 berada di peringkat 24 dari seluruh provinsi di Indonesia. Nilai PDRB tahun 2025 Bengkulu tercatat berada di atas nilai rata-rata keseluruhan periode historis sektor ini.
Banten
Provinsi Banten menempati peringkat 21 nasional untuk indikator yang sama, dengan nilai PDRB ADHK tanaman perkebunan tahun terakhir sebesar 3435,09 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sangat rendah hanya 0,26% pada periode terakhir, dengan penambahan nilai hanya sebesar 9,03 Rp miliar dibanding tahun sebelumnya. Peringkat Banten di Pulau Jawa berada pada urutan ke-4, dengan nilai hampir 28% lebih tinggi dibanding nilai PDRB Bengkulu pada tahun yang sama.
Maluku Utara
Maluku Utara tercatat menempati urutan pertama di wilayah Pulau Maluku, dan berada di peringkat 22 nasional. Nilai PDRB sektor tanaman perkebunan wilayah ini mencapai 3119,5 Rp miliar pada tahun terakhir, dengan pertumbuhan sebesar 2,79%. Wilayah ini mencatatkan penambahan nilai sebesar 84,69 Rp miliar, angka pertumbuhan ini berada di bawah pertumbuhan Bengkulu tahun 2025 namun masih berada di atas rata-rata pertumbuhan nasional untuk sektor yang sama.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Sukoharjo | 2004 - 2025)
Kalimantan Utara
Kalimantan Utara menempati urutan ke 5 di wilayah Pulau Kalimantan dan peringkat 23 secara nasional. Nilai PDRB ADHK tanaman perkebunan provinsi ini tercatat 2728,75 Rp miliar pada tahun terakhir, hanya berselisih sekitar 1,5% lebih tinggi dibanding nilai Bengkulu. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sangat baik sebesar 9,12% pada periode terakhir, menjadi pertumbuhan tertinggi diantara seluruh provinsi yang tercatat pada data perbandingan ini.
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur menempati posisi pertama di wilayah gugusan Nusa Tenggara dan Bali, dengan peringkat 25 secara nasional. Nilai PDRB sektor tanaman perkebunan wilayah ini mencapai 2317,05 Rp miliar, sekitar 13,8% lebih rendah dibanding nilai yang dicapai Bengkulu tahun 2025. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,65% pada periode terakhir, dengan penambahan nilai sebesar 144,54 Rp miliar dibanding tahun sebelumnya.
Bali
Bali menempati urutan ke 2 di wilayah Nusa Tenggara dan Bali, serta berada di peringkat 26 nasional. Nilai PDRB ADHK tanaman perkebunan provinsi ini tercatat sebesar 2270,55 Rp miliar pada tahun terakhir. Wilayah ini hanya mencatatkan pertumbuhan sangat sedikit sebesar 0,25% pada periode terakhir, dengan penambahan nilai hanya 5,62 Rp miliar dibanding tahun sebelumnya, menjadi pertumbuhan terendah diantara seluruh provinsi pada daftar perbandingan.
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Barat menempati urutan ke 3 di wilayah Nusa Tenggara dan Bali, dengan peringkat 27 secara nasional. Nilai PDRB sektor tanaman perkebunan provinsi ini mencapai 1560,51 Rp miliar pada tahun terakhir, sekitar 42% lebih rendah dibanding nilai yang dicatatkan Bengkulu. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 2% pada periode terakhir, dengan penambahan nilai sebesar 30,56 Rp miliar dibanding tahun sebelumnya.