Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi cabai rawit Provinsi Aceh pada akhir tahun 2025 mencapai 85967,7 ton. Nilai ini merupakan rekor tertinggi sepanjang 23 tahun periode pengamatan sejak 2003. Secara keseluruhan tren produksi menunjukkan kenaikan konsisten dengan pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 9,4 persen. Produksi terendah tercatat pada tahun 2008 dengan nilai hanya 10242 ton, sementara kenaikan persentase tertinggi terjadi pada tahun 2010 dengan pertumbuhan 104,49 persen dibanding tahun sebelumnya.
(Baca: PDRB ADHB Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Periode 2013-2024)
Berdasarkan rata-rata pertumbuhan, periode 3 tahun terakhir menunjukkan performa lebih baik dibanding periode 5 tahun terakhir. Rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir berada di angka 11,13 persen per tahun, sementara rata-rata 5 tahun terakhir hanya 7,91 persen. Pada tahun 2025, produksi Aceh mengalami pertumbuhan 33,3 persen dibandingkan tahun 2024, setelah sebelumnya sempat mencatat penurunan sedikit sebesar 11,56 persen pada tahun 2024. Posisi produksi tahun 2025 berada jauh di atas rata-rata produksi seluruh periode yang hanya sebesar 41474,4 ton.
Untuk posisi peringkat di wilayah Pulau Sumatera, Aceh berada di peringkat 2 pada tahun 2025, menempati posisi yang sama sejak tahun 2021. Secara nasional, Aceh berada di peringkat 6 dari seluruh provinsi di Indonesia. Dibandingkan provinsi lain di Sumatera, produksi Aceh 2025 berada di bawah Sumatera Utara namun masih di atas Jambi dan Sumatera Barat. Pertumbuhan produksi Aceh tahun 2025 juga menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di wilayah Sumatera periode tersebut.
Sumatera Utara
Sumatera Utara memegang posisi teratas sebagai produsen cabai rawit terbesar di Pulau Sumatera pada tahun 2025 dengan total produksi mencapai 117658,3 ton. Wilayah ini mencatat pertumbuhan produksi sebesar 39,87 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi pertumbuhan tertinggi diantara seluruh provinsi wilayah Sumatera yang tercatat. Secara nasional, Sumatera Utara berada di peringkat 4 nasional, mengungguli posisi Aceh, Jambi maupun Sumatera Barat. Nilai selisih kenaikan produksi tahun berjalan mencapai 33540,3 ton dibandingkan periode tahun sebelumnya.
(Baca: Garis Kemiskinan di Perdesaan Periode 2013-2023)
Jambi
Provinsi Jambi menempati urutan ketiga produksi cabai rawit di wilayah Pulau Sumatera tahun 2025 dengan total nilai produksi mencapai 42174,1 ton. Berbeda dengan dua provinsi teratas Sumatera, Jambi justru mencatat penurunan produksi sedikit sebesar 3,22 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya. Secara peringkat nasional, Jambi berada di posisi 8, dua tingkat dibawah posisi Aceh. Besar penurunan nilai produksi pada tahun berjalan mencapai 1404,4 ton jika dibandingkan dengan catatan produksi tahun 2024.
Sumatera Barat
Sumatera Barat berada di urutan keempat sebagai produsen cabai rawit di wilayah Pulau Sumatera pada akhir tahun 2025 dengan total produksi mencapai 31490,4 ton. Wilayah ini masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 13,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kenaikan nilai produksi sebesar 3774 ton. Secara peringkat nasional Sumatera Barat menempati posisi 9, tiga tingkat dibawah posisi Aceh dan satu tingkat dibawah provinsi Jambi. Pertumbuhan positif ini menjadikan Sumatera Barat salah satu dari tiga provinsi Sumatera yang masih mencatat peningkatan produksi pada tahun 2025.