Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pekerja di sektor akomodasi dan makan minum di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan pada tahun 2024 sebanyak 979 pekerja. Jumlah ini mengalami penurunan sebesar 50.28% dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 1969 pekerja. Penurunan ini cukup signifikan setelah mengalami kenaikan tajam pada tahun sebelumnya. Data historis menunjukkan bahwa jumlah pekerja di sektor ini cenderung fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir, dimana pada tahun 2020 pernah menyentuh angka terendah yaitu 494 pekerja.
Secara historis, jumlah pekerja sektor akomodasi di Kabupaten Soppeng mengalami kenaikan tertinggi pada tahun 2023 dengan pertumbuhan mencapai 80.15%. Sementara penurunan terendah terjadi pada tahun 2020 dengan penurunan sebesar 61.07%. Rata-rata jumlah pekerja dalam lima tahun terakhir (2019-2023) adalah 1163 pekerja. Dibandingkan dengan rata-rata ini, jumlah pekerja pada tahun 2024 lebih rendah. Jika dilihat dari ranking, pada tahun 2024 Kabupaten Soppeng berada di peringkat ke-40 di pulau Sulawesi.
(Baca: PDRB ADHB di Kabupaten Kepulauan Yapen Menurut Sektor pada 2024)
Dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Sulawesi Selatan, Kabupaten Soppeng berada di peringkat yang cukup rendah. Pada tahun 2024, Kabupaten Soppeng berada di peringkat ke-40 di pulau Sulawesi dengan nilai 979. Sebagai perbandingan, terdapat daerah lain yang memiliki jumlah pekerja di sektor ini jauh lebih tinggi. Secara nasional, Kabupaten Soppeng berada di peringkat ke-332.
Anomali terjadi pada tahun 2024 dimana terjadi penurunan yang sangat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini cukup mengejutkan setelah pada tahun 2023 mengalami kenaikan tertinggi. Jika dibandingkan dengan rata-rata 3 tahun terakhir (2021-2023) yaitu 1429 pekerja, penurunan pada tahun 2024 sangat terasa. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor akomodasi dan makan minum di Kabupaten Soppeng masih rentan terhadap perubahan dan perlu perhatian lebih lanjut.
Fluktuasi jumlah pekerja di sektor ini menunjukkan bahwa ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi, seperti kondisi ekonomi, pariwisata, dan kebijakan pemerintah daerah. Penurunan tajam pada tahun 2024, perlu dianalisis lebih dalam untuk memahami penyebabnya dan mencari solusi agar sektor ini dapat kembali berkembang.
Kabupaten Tapanuli Selatan
Kabupaten Tapanuli Selatan menempati posisi ke-100 di Pulau Sumatera dengan jumlah pekerja di sektor akomodasi dan makan minum sebanyak 1007 pekerja. Dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi pertumbuhan sebesar 35.17%, yang mana selisih nilainya adalah 262 pekerja. Meskipun demikian, ranking kabupaten ini masih tergolong rendah di Sumatera.
(Baca: PDRB ADHB di Kabupaten Jayapura Menurut Sektor pada 2024)
Kabupaten Labuhan Batu
Dengan nilai 1005 pekerja, Kabupaten Labuhan Batu menempati peringkat 101 di Pulau Sumatera. Terjadi penurunan pertumbuhan signifikan turun 63.65%, selisih nilai tahunan turun 1760 pekerja. Penurunan ini menempatkan Labuhan Batu pada posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan daerah lain di Sumatera.
Kabupaten Sarolangun
Kabupaten Sarolangun berada di peringkat 102 dengan nilai 981 pekerja. Terjadi lonjakan pertumbuhan mencapai 380.88% dari tahun sebelumnya, perbedaan jumlah pekerja sebesar 777 orang. Kenaikan yang signifikan ini menempatkan Kabupaten Sarolangun pada posisi yang menarik untuk diperhatikan perkembangannya.
Kota Langsa
Kota Langsa menempati peringkat ke-103 dengan nilai 934 pekerja. Kota ini mengalami penurunan pertumbuhan -55.03%, dengan perbedaan jumlah pekerja -1143 orang dari tahun sebelumnya. Penurunan ini menyebabkan Langsa berada di posisi yang kurang baik dibandingkan daerah lainnya.
Kota Sungai Penuh
Kota Sungai Penuh menempati urutan ke-104 dengan jumlah pekerja sebesar 907 pekerja. Pertumbuhan menunjukkan kenaikan 17.34% dengan selisih 134 pekerja dari tahun sebelumnya. Meskipun ada pertumbuhan, posisi Sungai Penuh masih perlu ditingkatkan dibandingkan dengan daerah lain.
Kabupaten Gunung Mas
Kabupaten Gunung Mas berada di peringkat ke-41 di Pulau Kalimantan dengan jumlah pekerja sektor akomodasi dan makan minum sebanyak 878 orang. Kenaikan pertumbuhan tercatat 112.59% atau terdapat perbedaan jumlah pekerja sebesar 465 orang. Posisi ini memberikan indikasi positif untuk perkembangan sektor akomodasi dan makan minum di wilayah ini.