Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Persentase Desa yang tidak Memiliki Sinyal Internet di Nusa Tenggara Barat terus mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2024, persentase desa tanpa sinyal internet hanya sebesar 0,09 desa, menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan upaya yang berhasil dalam memperluas jangkauan internet di wilayah tersebut.
Dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun sebelumnya (2019-2021) sebesar 1,30 desa, kondisi tahun 2024 menunjukkan penurunan yang sangat signifikan, yakni sebesar 0,35 desa. Bahkan, jika dibandingkan dengan rata-rata lima tahun terakhir (2018-2024), penurunan ini tetap sangat terasa. Pertumbuhan negatif atau penurunan persentase desa tanpa internet tertinggi terjadi pada tahun 2024 dengan penurunan turun 80.25, menunjukkan akselerasi perbaikan konektivitas internet di desa-desa Nusa Tenggara Barat. Peringkat Nusa Tenggara Barat secara nasional juga mengalami peningkatan, dari peringkat 21 pada tahun 2018 menjadi peringkat 30 pada tahun 2024.
(Baca: Provinsi Bali Ekspor 4.200 Ton Sepatu dan Peralatan Kaki Lainnya)
Di antara provinsi-provinsi di wilayah Nusa Tenggara dan Bali, Nusa Tenggara Barat menduduki peringkat ke-2 untuk persentase desa tanpa sinyal internet terendah pada tahun 2024. Nilai 0,09 desa menempatkan Nusa Tenggara Barat pada posisi yang lebih baik dibandingkan dengan beberapa provinsi lain di pulau tersebut. Secara nasional, Nusa Tenggara Barat berada di peringkat ke-30, menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk perbaikan agar dapat bersaing dengan provinsi-provinsi lain yang memiliki infrastruktur internet yang lebih baik.
Penurunan persentase desa tanpa sinyal internet di Nusa Tenggara Barat tidak terjadi secara konsisten setiap tahun. Pada tahun 2019 terjadi kenaikan tipis, tetapi secara keseluruhan trennya menunjukkan penurunan. Kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2019 sebesar 3.85 desa, sementara penurunan terendah terjadi pada tahun 2024 sebesar 0.09 desa.
Penurunan signifikan pada tahun 2024 menunjukkan adanya intervensi atau kebijakan yang efektif dalam mengatasi masalah konektivitas internet di desa-desa Nusa Tenggara Barat. Hal ini dapat menjadi indikasi keberhasilan program-program pemerintah atau inisiatif swasta yang bertujuan untuk memperluas jangkauan internet hingga ke pelosok desa.
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta menempati peringkat pertama di pulau Jawa dan peringkat ke-27 secara nasional dengan persentase desa tanpa sinyal internet sebesar 0.23 desa. Walaupun menduduki peringkat pertama di pulau Jawa, namun persentase ini menunjukkan bahwa masih ada desa-desa di DI Yogyakarta yang belum terjangkau sinyal internet. Pertumbuhan pada tahun ini adalah 0 desa, mengindikasikan tidak ada perubahan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
(Baca: 71,8% Penduduk di Kabupaten Sumba Barat Beragama Protestan)
Riau
Dengan nilai 0.21 desa, Riau menempati peringkat ke-7 di pulau Sumatera dan peringkat ke-28 secara nasional. Pertumbuhan positif sebesar 0.33 menunjukkan adanya peningkatan jumlah desa yang memiliki akses internet dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun demikian, Riau masih perlu berupaya lebih keras untuk mengejar ketertinggalan dari provinsi-provinsi lain di Sumatera yang memiliki persentase desa tanpa sinyal internet yang lebih rendah.
Lampung
Lampung berada di peringkat ke-8 di pulau Sumatera dan peringkat ke-29 secara nasional dengan persentase desa tanpa sinyal internet sebesar 0.11 desa. Penurunan signifikan turun 70.04 menunjukkan kemajuan yang pesat dalam memperluas jangkauan internet di desa-desa Lampung. Hal ini dapat menjadi contoh bagi provinsi-provinsi lain di Sumatera yang masih menghadapi masalah konektivitas internet.
Banten
Banten menduduki peringkat ke-2 di pulau Jawa dan peringkat ke-31 secara nasional dengan persentase desa tanpa sinyal internet sebesar 0.06 desa. Penurunan turun 50.04 menunjukkan adanya upaya yang berhasil dalam mengurangi jumlah desa yang tidak memiliki akses internet. Banten perlu terus berupaya untuk mempertahankan tren positif ini dan mencapai target semua desa terhubung dengan internet.
Jawa Timur
Jawa Timur menempati peringkat ke-2 di pulau Jawa dan peringkat ke-31 secara nasional dengan persentase desa tanpa sinyal internet sebesar 0.06 desa. Penurunan yang cukup signifikan turun 70.91 mengindikasikan keberhasilan program-program pemerintah daerah dalam memperluas infrastruktur internet hingga ke pelosok desa. Jawa Timur memiliki potensi untuk terus meningkatkan konektivitas internet dan menjadi contoh bagi provinsi-provinsi lain di Indonesia.
Jawa Barat
Jawa Barat menduduki peringkat ke-4 di pulau Jawa dan peringkat ke-33 secara nasional dengan persentase desa tanpa sinyal internet sebesar 0.02 desa. Dengan pertumbuhan turun 80.33, Jawa Barat menjadi provinsi dengan persentase desa tanpa sinyal internet yang terendah di antara provinsi-provinsi lain di pulau Jawa. Hal ini menunjukkan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah dalam menyediakan akses internet yang merata bagi seluruh masyarakat Jawa Barat.