Menurut laporan Kementerian Kesehatan, ada 20.542 peserta program cek kesehatan gratis (CKG) yang mengalami abnormalitas payudara atau dicurigai kanker payudara pada 2025.
Peserta CKG yang dicurigai kanker payudara ini paling banyak berusia antara 30–39 tahun, dengan rincian berikut:
- 18–29 tahun: 0,2% (dari total peserta CKG yang dicurigai kanker payudara)
- 30–39 tahun: 33,7%
- 40–49 tahun: 31,8%
- 50–59 tahun: 23,3%
- 60 tahun ke atas: 11%
Dari seluruh peserta CKG yang mengalami abnormalitas payudara, sebanyak 7,2% atau 1.472 orang di antaranya terdiagnosis kanker payudara melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) yang tersedia di puskesmas.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun menegaskan pentingnya deteksi dini kanker payudara untuk menekan risiko kematian.
"Dengan teknologi sekarang, kalau kanker payudara ketahuan dari stadium satu, itu 90% bisa disembuhkan. Tapi, kalau ketahuan stadium tiga, itu 90% wafat," kata Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR, Senin (19/1/2026).
"Kalau nanti kami masifkan (skrining kanker payudara), saya rasa kita bisa menyelamatkan banyak nyawa, karena kanker payudara adalah pembunuh nomor satu," ujarnya.
(Baca: 90% Perempuan RI Tak Pernah Deteksi Dini Kanker Payudara)