Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pekerja sektor konstruksi di Sulawesi Barat pada tahun 2025 tercatat sebesar 29.491 pekerja. Sepanjang 11 tahun periode data sejak 2015, angka ini menunjukkan perubahan total peningkatan sebesar 36,95% dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 3,19%. Pada tahun 2025 terjadi penurunan sedikit sebesar 2,21% dibandingkan tahun 2024, dengan selisih pengurangan sebanyak 668 pekerja. Rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir tercatat 3,72%, angka ini lebih baik dibandingkan rata-rata 4 tahun terakhir yang hanya 0,56% namun lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan seluruh periode sebesar 8,82%.
(Baca: Harga Kopi Kontrak Tiga Bulan - US Coffee C Futures Turun Menuju Level 301,2 Pound (Kamis, 02 Juli 2026))
Sepanjang riwayat data, kenaikan tertinggi pekerja konstruksi di provinsi ini terjadi pada tahun 2016 dengan penambahan sebanyak 24.549 pekerja atau pertumbuhan 114% dibandingkan tahun pertama data. Sedangkan nilai pekerja terendah tercatat pada tahun 2015 sebesar 21.534 pekerja. Selama 10 tahun periode perubahan tercatat, sebanyak 4 kali terjadi kenaikan jumlah pekerja dan 6 kali mengalami penurunan. Nilai pekerja tahun 2025 saat ini tercatat berada di bawah angka rata-rata seluruh periode yang mencapai 32.554 pekerja.
Untuk posisi peringkat di wilayah Pulau Sulawesi, Sulawesi Barat secara konsisten menempati urutan ke-5 sejak tahun 2016 hingga tahun 2025, tidak ada perubahan peringkat selama 9 tahun berturut-turut. Secara nasional, provinsi ini mengalami peningkatan peringkat dari posisi 28 menjadi posisi 27 pada dua tahun terakhir dan tetap bertahan pada peringkat tersebut hingga tahun 2025. Dari data perbandingan provinsi lain, nilai pekerja konstruksi Sulawesi Barat tahun 2025 berada di atas Gorontalo dan Maluku namun masih lebih rendah dibandingkan provinsi Sumatera dan Kalimantan yang tercatat.
Kepulauan Riau
Kepulauan Riau menempati peringkat 24 secara nasional dan urutan ke-8 di wilayah Pulau Sumatera untuk indikator jumlah pekerja konstruksi tahun tercatat. Nilai pekerja di provinsi ini tercatat sebesar 65.545 pekerja, mengalami penurunan sebesar 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya dengan pengurangan sebanyak 7.693 pekerja. Angka ini menjadikan Kepulauan Riau memiliki jumlah pekerja konstruksi lebih dari dua kali lipat dibandingkan nilai yang tercatat di Sulawesi Barat pada periode yang sama, serta menempati urutan tertinggi diantara seluruh provinsi yang tercatat pada data perbandingan.
Kalimantan Tengah
Kalimantan Tengah menduduki peringkat 25 secara nasional dan urutan ke-4 di wilayah Pulau Kalimantan untuk jumlah pekerja sektor konstruksi. Provinsi ini mencatatkan nilai sebesar 51.454 pekerja pada tahun terakhir, dengan penurunan pertumbuhan sebesar 8,66% dibandingkan periode sebelumnya. Nilai ini berada di bawah Kepulauan Riau namun masih 74,5% lebih tinggi dibandingkan jumlah pekerja konstruksi yang tercatat di Sulawesi Barat, menjadikannya provinsi dengan jumlah pekerja konstruksi terbesar kedua pada kelompok data perbandingan.
Bengkulu
(Baca: Harga Komoditas Nikel untuk Kontrak 3 Bulan ke Depan Pagi Hari Diperdagangkan US$16.330 /Ton (Jumat, 03 Juli 2026))
Bengkulu menempati urutan 26 secara nasional dan peringkat ke-9 di wilayah Pulau Sumatera untuk indikator ini. Jumlah pekerja konstruksi di provinsi ini tercatat sebesar 40.299 pekerja, mengalami penurunan sebesar 7,33% dengan selisih pengurangan sebanyak 3.189 pekerja dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai pekerja di Bengkulu masih sekitar 36,6% lebih tinggi dibandingkan Sulawesi Barat, dan menempati urutan ketiga terbesar dari seluruh provinsi yang tercantum dalam daftar perbandingan.
Kepulauan Bangka Belitung
Kepulauan Bangka Belitung menduduki peringkat 28 secara nasional dan urutan ke-10 di wilayah Pulau Sumatera untuk jumlah pekerja konstruksi. Berbeda dengan sebagian besar provinsi lain, provinsi ini mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 1,6% dengan penambahan sebanyak 422 pekerja pada tahun terakhir. Nilai total pekerja tercatat sebesar 26.828 pekerja, angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan nilai Sulawesi Barat yang mencapai 29.491 pekerja pada periode yang sama.
Gorontalo
Gorontalo menempati urutan 29 secara nasional dan peringkat ke-6 di wilayah Pulau Sulawesi untuk indikator jumlah pekerja konstruksi. Provinsi ini mencatatkan nilai sebesar 26.548 pekerja, mengalami penurunan sebesar 3,14% dengan pengurangan sebanyak 861 pekerja dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ini berada 9,9% lebih rendah dibandingkan Sulawesi Barat yang merupakan satu wilayah pulau yang sama, menjadikan Gorontalo berada satu peringkat di bawah Sulawesi Barat secara nasional.
Maluku
Maluku menduduki peringkat terbawah yaitu urutan 30 secara nasional dan peringkat pertama di wilayah pulau sendiri untuk indikator ini. Jumlah pekerja konstruksi di provinsi ini tercatat sebesar 26.295 pekerja, mengalami penurunan terbesar diantara seluruh provinsi perbandingan yaitu sebesar 11,79% dengan pengurangan sebanyak 3.516 pekerja. Nilai ini merupakan yang terendah dari seluruh wilayah yang tercatat, berada 10,8% lebih rendah dibandingkan jumlah pekerja konstruksi Sulawesi Barat tahun 2025.