Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor tahunan Jawa Tengah pada tahun 2021 mencapai 11781,79 US$ juta. Dari catatan historis 6 tahun terakhir, tahun 2021 mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 35,12 persen setelah dua tahun berturut-turut mengalami kontraksi pada 2019 dan 2020. Kenaikan nilai impor pada 2021 sebesar 3062 US$ juta dibandingkan tahun sebelumnya. Selama periode 2016-2021, kenaikan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2018 dengan persentase 38,67 persen, sedangkan penurunan terendah terjadi pada tahun 2020 dengan kontraksi sebesar 30,62 persen.
(Baca: PDRB Harga Konstan Total di Sumatera Selatan | 2025)
Pertumbuhan impor Jawa Tengah tahun 2021 tercatat lebih baik dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir yang sempat mengalami kontraksi berturut-turut. Selama 5 tahun terakhir, posisi ranking impor Jawa Tengah di lingkup Pulau Jawa berada di urutan 3 hingga 4, dimana pada tahun 2021 tetap menempati urutan 4 sama seperti tahun 2020. Untuk ranking nasional, Jawa Tengah juga konsisten berada di urutan 3 hingga 5, dengan posisi urutan 5 pada tahun 2021 yang tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada tahun 2021, dari seluruh provinsi di Pulau Jawa, nilai impor Jawa Tengah menempati urutan terakhir setelah DKI Jakarta, Jawa Timur dan Banten. Nilai impor Jawa Tengah sebesar 11781,79 US$ juta tercatat hampir separuh dari nilai impor Jawa Timur yang mencapai 27479,47 US$ juta, dan hanya sekitar 12 persen dari total nilai impor DKI Jakarta sebagai provinsi dengan nilai impor tertinggi nasional. Pertumbuhan impor Jawa Tengah sebesar 35,12 persen berada sedikit di atas capaian DKI Jakarta dan sedikit di bawah capaian Jawa Timur pada tahun yang sama.
DKI Jakarta
Menempati urutan pertama baik di Pulau Jawa maupun seluruh Indonesia, DKI Jakarta mencatatkan nilai impor tahun 2021 sebesar 96911,5 US$ juta. Besaran nilai ini hampir 8 kali lipat nilai impor Jawa Tengah pada periode yang sama. Pertumbuhan impor provinsi ini mencapai 34,53 persen dengan kenaikan nilai sebesar 24874,32 US$ juta dibandingkan tahun 2020, menjadi penambah nilai impor nasional terbesar pada tahun tersebut. Posisi teratas ini telah dipertahankan secara konsisten selama seluruh periode pengamatan data historis impor provinsi.
Jawa Timur
Sebagai provinsi kedua tertinggi di Pulau Jawa dan peringkat dua nasional, Jawa Timur mencatatkan nilai impor tahun 2021 sebesar 27479,47 US$ juta. Nilai ini 2,3 kali lebih besar dibandingkan nilai impor Jawa Tengah pada tahun yang sama. Pertumbuhan impor provinsi ini mencapai 37,5 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian pertumbuhan Jawa Tengah. Kenaikan nilai impor yang terjadi mencapai 7493,8 US$ juta, menempatkan Jawa Timur sebagai pendorong terbesar kedua pertumbuhan impor regional Pulau Jawa tahun 2021.
(Baca: Produksi Padi di Papua | 2026)
Banten
Berada di peringkat ketiga Pulau Jawa dan peringkat tiga nasional, Banten mencatatkan nilai impor tahun 2021 sebesar 15326,3 US$ juta. Nilai ini 30 persen lebih tinggi dibandingkan nilai impor Jawa Tengah pada periode yang sama. Provinsi ini mencatatkan pertumbuhan impor tertinggi diantara seluruh provinsi di Pulau Jawa yaitu sebesar 59,5 persen, dengan kenaikan nilai mencapai 5717,53 US$ juta dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini berhasil mempertahankan posisi peringkat Banten di atas Jawa Tengah selama tiga tahun berturut-turut.
Kepulauan Riau
Sebagai satu-satunya provinsi di luar Pulau Jawa yang masuk lima besar nilai impor nasional tahun 2021, Kepulauan Riau menempati peringkat empat nasional dengan nilai impor mencapai 14427,68 US$ juta. Nilai impor ini 22 persen lebih besar dibandingkan capaian Jawa Tengah. Pertumbuhan impor provinsi Sumatera ini tercatat sebesar 28,09 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan yang dicapai Jawa Tengah pada tahun yang sama. Peringkat ini menempatkan Kepulauan Riau tepat satu tingkat di atas Jawa Tengah dalam daftar ranking impor nasional tahun 2021.
Jawa Tengah
Menempati urutan kelima secara nasional dan urutan keempat di wilayah Pulau Jawa, Jawa Tengah mencatatkan nilai impor tahun 2021 sebesar 11781,79 US$ juta. Provinsi ini berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 35,12 persen setelah dua tahun berturut-turut mengalami penurunan nilai impor. Kenaikan nilai yang terjadi sebesar 3062 US$ juta merupakan kenaikan terbesar yang dicapai Jawa Tengah sejak tahun 2018. Meskipun pertumbuhan tergolong tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, posisi peringkat Jawa Tengah tidak mengalami perubahan sama sekali dibandingkan tahun 2020.