Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor tahunan Jawa Tengah pada 2021 sebesar 11781.79 US$ juta, mengalami pertumbuhan positif sebesar 35.12% dibanding tahun 2020. Perkembangan historis dari 2016 hingga 2021 menunjukkan fluktuasi: tahun 2017 naik 20.96%, 2018 naik 38.67% (kenaikan tertinggi), 2019 turun 14.97%, 2020 turun 30.62% (penurunan terendah), lalu kembali naik pada 2021. Rata-rata nilai impor 3 tahun terakhir (2019-2021) sekitar 11043.74 US$ juta, sedangkan rata-rata 5 tahun terakhir (2017-2021) sekitar 11700.23 US$ juta, artinya kondisi 5 tahun terakhir lebih baik dibanding 3 tahun terakhir. Ranking seindonesia Jawa Tengah pada 2021 adalah 5, turun dari peringkat 3 di 2018 dan 2019, sedangkan ranking menurut pulau Jawa tetap di posisi 4 sama seperti tahun 2020.
(Baca: Rata-Rata Upah atau Gaji Bersih Sebulan Pekerja Formal Industri Pengolahan di Maluku Utara | 2025)
DKI Jakarta
Ranking seindonesia 1 dan ranking pulau Jawa 1 pada 2021, nilai impor tahun terakhir DKI Jakarta sebesar 96911.5 US$ juta, jauh lebih tinggi dibanding provinsi lain. Pertumbuhannya sebesar 34.53% dibanding tahun 2020, dengan selisih nilai sebesar 24874.32 US$ juta. Rata-rata nilai impor 3 tahun terakhir (2019-2021) sekitar 94106.16 US$ juta, menunjukkan performa impor yang konsisten teratas di Indonesia. Dibanding Jawa Tengah, nilai impor DKI Jakarta lebih dari 8 kali lipat, menegaskan perannya sebagai pusat perdagangan nasional.
Jawa Timur
Ranking seindonesia 2 dan ranking pulau Jawa 2 pada 2021, nilai impor tahun terakhir Jawa Timur sebesar 27479.47 US$ juta, dengan pertumbuhan 37.5% dibanding tahun 2020. Selisih nilai dengan tahun sebelumnya sebesar 7493.8 US$ juta, lebih besar dibanding selisih Jawa Tengah sebesar 3062 US$ juta. Rata-rata nilai impor 3 tahun terakhir (2019-2021) sekitar 23047.94 US$ juta, lebih dari dua kali lipat rata-rata Jawa Tengah. Perkembangan impor Jawa Timur menunjukkan pertumbuhan signifikan, menjadikannya provinsi kedua dengan nilai impor tertinggi di Indonesia setelah DKI Jakarta.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Kecantikan Kota Surakarta | 2024)
Banten
Ranking seindonesia 3 dan ranking pulau Jawa 3 pada 2021, nilai impor tahun terakhir Banten sebesar 15326.3 US$ juta, dengan pertumbuhan 59.5% dibanding tahun 2020—ini adalah pertumbuhan tertinggi di antara provinsi yang dibandingkan. Selisih nilai dengan tahun sebelumnya sebesar 5717.53 US$ juta, lebih besar dibanding selisih Jawa Tengah. Rata-rata nilai impor 3 tahun terakhir (2019-2021) sekitar 12327.47 US$ juta, sedikit lebih tinggi dari rata-rata Jawa Tengah. Meskipun rankingnya di atas Jawa Tengah, pertumbuhan impor Banten pada 2021 jauh lebih tinggi, menunjukkan peningkatan performa impor yang pesat.
Kep. Riau
Ranking seindonesia 4 dan ranking pulau Sumatera 1 pada 2021, nilai impor tahun terakhir Kep. Riau sebesar 14427.68 US$ juta, dengan pertumbuhan 28.09% dibanding tahun 2020. Selisih nilai dengan tahun sebelumnya sebesar 3164.04 US$ juta, sedikit lebih besar dibanding selisih Jawa Tengah sebesar 3062 US$ juta. Rata-rata nilai impor 3 tahun terakhir (2019-2021) sekitar 13338.93 US$ juta, lebih tinggi dari rata-rata Jawa Tengah. Sebagai provinsi di pulau Sumatera dengan nilai impor tertinggi, Kep. Riau menunjukkan performa impor stabil dan berada di peringkat keempat nasional, di atas Jawa Tengah.
Jawa Tengah
Ranking seindonesia 5 dan ranking pulau Jawa 4 pada 2021, nilai impor tahun terakhir Jawa Tengah sebesar 11781.79 US$ juta, dengan pertumbuhan 35.12% dibanding tahun 2020. Selisih nilai dengan tahun sebelumnya sebesar 3062 US$ juta, setelah mengalami penurunan signifikan pada tahun 2020 sebesar 30.62%. Rata-rata nilai impor 3 tahun terakhir (2019-2021) sekitar 11043.74 US$ juta, sedangkan rata-rata 5 tahun terakhir (2017-2021) sekitar 11700.23 US$ juta, menunjukkan performa impor 5 tahun terakhir lebih baik dibanding 3 tahun terakhir. Dibanding provinsi lain di pulau Jawa, Jawa Tengah berada di bawah DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Banten, namun tetap menjadi salah satu provinsi dengan nilai impor tinggi di Indonesia.