Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin perkotaan di Sumatera Selatan pada semester pertama 2025 (Maret 2025) sebesar 314.490 jiwa, mengalami peningkatan sedikit sebesar 1,44% dibandingkan semester sebelumnya (September 2024) yang tercatat 310.040 jiwa. Rata-rata jumlah penduduk miskin perkotaan selama tiga semester terakhir sebelum Maret 2025 adalah sekitar 341.377 jiwa, sehingga nilai semester ini lebih rendah dibandingkan rata-rata tersebut. Sementara itu, rata-rata selama lima semester terakhir adalah sekitar 343.542 jiwa, yang juga lebih tinggi daripada nilai semester pertama 2025. Dalam lima semester terakhir, peringkat nasional Sumatera Selatan turun dari peringkat 8 pada September 2022 menjadi peringkat 9 pada Maret 2025, sementara peringkat di Pulau Sumatera tetap konsisten di posisi kedua. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Maret 2013 sebesar 4,66%, sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada Maret 2012 turun 13,17%.
(Baca: Statistik Persentase Penduduk Miskin di Kabupaten Kep. Siau Tagulandang Biaro 2016-2025)
Perkembangan jumlah penduduk miskin perkotaan di Sumatera Selatan dari tahun 2007 hingga 2025 menunjukkan tren penurunan umum meskipun terdapat fluktuasi kecil. Fluktuasi ini terlihat dari naik turunnya nilai setiap semester: dari 545.900 jiwa pada Desember 2007 menurun ke 310.040 jiwa pada September 2024, lalu mengalami peningkatan sedikit ke 314.490 jiwa pada Maret 2025. Setelah periode penurunan besar pada Maret 2012 dengan pertumbuhan -13,17%, nilai jumlah penduduk miskin perkotaan berfluktuasi dalam rentang 360.000 hingga 400.000 jiwa hingga tahun 2020, sebelum mulai menurun secara terus-menerus hingga September 2024.
Dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Sumatera, Sumatera Selatan menempati peringkat kedua dalam jumlah penduduk miskin perkotaan pada semester pertama 2025, di atas Lampung yang mencatat nilai sebesar 229.160 jiwa dan Aceh dengan 174.180 jiwa. Secara nasional, Sumatera Selatan berada di peringkat 9, yang lebih rendah dibandingkan DKI Jakarta (peringkat 6), Nusa Tenggara Barat (peringkat7), dan DI Yogyakarta (peringkat8). Nilai jumlah penduduk miskin perkotaan Sumatera Selatan juga lebih tinggi dibandingkan semua provinsi dalam data perbandingan, kecuali DKI Jakarta yang memiliki nilai sebesar 464.870 jiwa.
Provinsi DKI Jakarta
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin perkotaan di DKI Jakarta pada semester terakhir sebesar 464.870 jiwa, yang merupakan nilai tertinggi di antara provinsi dalam data perbandingan. Nilai ini mengalami peningkatan sedikit sebesar 3,52% dibandingkan semester sebelumnya, dengan selisih sebesar 15.800 jiwa. Rata-rata jumlah penduduk miskin perkotaan selama tiga semester terakhir di DKI Jakarta sekitar 420.000 jiwa, sehingga nilai semester ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata tersebut. Secara nasional, DKI Jakarta menempati peringkat 6, sedangkan di Pulau Jawa menempati posisi yang lebih tinggi dibandingkan DI Yogyakarta. Dibandingkan dengan Sumatera Selatan, nilai penduduk miskin perkotaan DKI Jakarta lebih tinggi sebesar 150.380 jiwa, namun pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Sumatera Selatan pada semester yang sama.
Provinsi Nusa Tenggara Barat
Jumlah penduduk miskin perkotaan di Nusa Tenggara Barat pada semester terakhir sebesar 353.680 jiwa, dengan pertumbuhan sebesar 4,41% dibandingkan semester sebelumnya dan selisih peningkatan sebesar 14.940 jiwa. Rata-rata nilai selama lima semester terakhir di provinsi ini sekitar 330.000 jiwa, sehingga nilai semester ini lebih tinggi daripada rata-rata tersebut. Secara nasional, Nusa Tenggara Barat berada di peringkat7, yang lebih tinggi daripada peringkat Sumatera Selatan (peringkat9) dan DI Yogyakarta (peringkat8). Di Pulau Nusa Tenggara dan Bali, provinsi ini menempati peringkat pertama dalam jumlah penduduk miskin perkotaan. Dibandingkan dengan DKI Jakarta, nilai penduduk miskin perkotaan Nusa Tenggara Barat lebih rendah sebesar 111.190 jiwa, namun pertumbuhannya lebih tinggi sebesar 0,89% dibandingkan pertumbuhan DKI Jakarta.
(Baca: Statistik Penduduk Beragama Protestan di Kalimantan Barat 2015-2024)
Provinsi DI Yogyakarta
DI Yogyakarta mencatat jumlah penduduk miskin perkotaan pada semester terakhir sebesar 321.040 jiwa, dengan pertumbuhan sebesar 1,34% dibandingkan semester sebelumnya dan selisih peningkatan sebesar 4.230 jiwa. Rata-rata nilai selama tiga semester terakhir di provinsi ini sekitar 315.000 jiwa, sehingga nilai semester ini sedikit lebih tinggi daripada rata-rata tersebut. Secara nasional, DI Yogyakarta berada di peringkat8, yang lebih tinggi daripada peringkat Sumatera Selatan (peringkat9) namun lebih rendah daripada Nusa Tenggara Barat (peringkat7). Di Pulau Jawa, provinsi ini menempati posisi di bawah DKI Jakarta. Dibandingkan dengan Sumatera Selatan, nilai penduduk miskin perkotaan DI Yogyakarta lebih rendah sebesar 6.550 jiwa, dan pertumbuhannya lebih rendah sebesar 0,1% dibandingkan pertumbuhan Sumatera Selatan.
Provinsi Lampung
Jumlah penduduk miskin perkotaan di Lampung pada semester terakhir sebesar 229.160 jiwa, yang merupakan nilai terendah di antara provinsi Sumatera dalam data perbandingan. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 4,32% dibandingkan semester sebelumnya, dengan selisih penurunan sebesar 10.350 jiwa. Rata-rata nilai selama lima semester terakhir di provinsi ini sekitar 240.000 jiwa, sehingga nilai semester ini lebih rendah daripada rata-rata tersebut. Secara nasional, Lampung berada di peringkat10, yang lebih rendah daripada peringkat Sumatera Selatan (peringkat9). Di Pulau Sumatera, provinsi ini menempati posisi di bawah Sumatera Selatan. Dibandingkan dengan Aceh, nilai penduduk miskin perkotaan Lampung lebih tinggi sebesar 54.980 jiwa, namun mengalami penurunan sedangkan Aceh mengalami peningkatan.
Provinsi Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan mencatat jumlah penduduk miskin perkotaan pada semester terakhir sebesar 227.840 jiwa, dengan pertumbuhan turun 0,33% dibandingkan semester sebelumnya dan selisih penurunan sebesar 750 jiwa. Rata-rata nilai selama tiga semester terakhir di provinsi ini sekitar 228.000 jiwa, sehingga nilai semester ini hampir sama dengan rata-rata tersebut. Secara nasional, Sulawesi Selatan berada di peringkat11, yang lebih rendah daripada peringkat Sumatera Selatan (peringkat9). Di Pulau Sulawesi, provinsi ini menempati peringkat pertama dalam jumlah penduduk miskin perkotaan. Dibandingkan dengan Lampung, nilai penduduk miskin perkotaan Sulawesi Selatan sedikit lebih rendah sebesar 1.320 jiwa, dan pertumbuhannya lebih tinggi sebesar 3,99% dibandingkan pertumbuhan Lampung.
Provinsi Aceh
Jumlah penduduk miskin perkotaan di Aceh pada semester terakhir sebesar 174.180 jiwa, yang merupakan nilai terendah di antara semua provinsi dalam data perbandingan. Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 3,24% dibandingkan semester sebelumnya, dengan selisih peningkatan sebesar 5.470 jiwa. Rata-rata nilai selama lima semester terakhir di provinsi ini sekitar 180.000 jiwa, sehingga nilai semester ini lebih rendah daripada rata-rata tersebut. Secara nasional, Aceh berada di peringkat12, yang lebih rendah daripada peringkat Sumatera Selatan (peringkat9). Di Pulau Sumatera, provinsi ini menempati posisi terendah dalam jumlah penduduk miskin perkotaan. Dibandingkan dengan Sulawesi Selatan, nilai penduduk miskin perkotaan Aceh lebih rendah sebesar 53.660 jiwa, dan pertumbuhannya lebih tinggi sebesar 3,57% dibandingkan pertumbuhan Sulawesi Selatan.