Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data triwulanan PDRB ADHK Sektor Transportasi dan Pergudangan Kalimantan Tengah hingga kuartal I 2026 tercatat sebesar 2144,89 Rp miliar. Selama 65 periode pengamatan sejak kuartal I 2010, nilai sektor ini menunjukkan tren naik secara keseluruhan dengan total perubahan mencapai 149,54% sejak pertama dicatat. Pada kuartal terakhir, nilai ini berada di atas rata-rata historis yang mencapai 1436,69 Rp miliar.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kota Lubuk Linggau | 2004 - 2025)
Kuartal I 2026 mencatat penurunan sebesar 8,9% dibandingkan kuartal IV 2025 yang sempat menjadi titik tertinggi sepanjang sejarah dengan nilai 2354,51 Rp miliar. Rata-rata pertumbuhan 3 kuartal terakhir tercatat negatif turun 0,57%, memburuk dibanding rata-rata 5 kuartal terakhir yang masih menunjukkan pertumbuhan positif sangat sedikit sebesar 0,07%. Titik terendah nilai sektor ini pernah tercatat pada kuartal IV 2010 dengan nilai 827,8 Rp miliar.
Selama 5 kuartal terakhir, Kalimantan Tengah secara konsisten menempati peringkat ke-3 di wilayah Pulau Kalimantan untuk sektor ini, tanpa perubahan peringkat. Secara nasional, provinsi ini bertahan di peringkat 15 dari seluruh provinsi di Indonesia. Sepanjang riwayat data, peringkat nasional Kalimantan Tengah pernah berada di posisi terendah 20, dan sempat mencapai posisi terbaik 12 pada kuartal II 2022.
Aceh
Aceh menempati peringkat ke 12 nasional dan peringkat 4 di Pulau Sumatera untuk sektor ini pada kuartal terakhir, dengan nilai PDRB transportasi dan pergudangan tercatat 2867,88 Rp miliar. Sektor ini tumbuh 1,22% dibanding kuartal sebelumnya, dengan selisih kenaikan sebesar 34,48 Rp miliar. Nilai ini berada jauh di atas catatan Kalimantan Tengah, dengan selisih lebih dari 720 Rp miliar. Pertumbuhan Aceh pada periode ini juga tercatat lebih stabil dibanding fluktuasi yang terjadi di Kalimantan Tengah.
Bali
Bali mencatatkan nilai 2862,98 Rp miliar pada kuartal terakhir, menempati peringkat 13 secara nasional dan peringkat pertama di wilayah Nusa Tenggara dan Bali. Pertumbuhan sektor ini tercatat sangat sedikit sebesar 0,2% dibanding periode sebelumnya. Nilai ini hampir setara dengan catatan Aceh, hanya terpaut kurang dari 5 Rp miliar saja. Peringkat Bali secara nasional berada satu tingkat di atas Sulawesi Utara dan dua tingkat di atas Kalimantan Tengah.
Sulawesi Utara
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan di Kep. Bangka Belitung 2025)
Sulawesi Utara menempati peringkat 14 nasional dan peringkat kedua di Pulau Sulawesi, dengan nilai sektor transportasi dan pergudangan sebesar 2444,55 Rp miliar. Pada periode ini terjadi penurunan sebesar 14,16% dibanding kuartal sebelumnya, menjadi penurunan terbesar diantara seluruh provinsi yang dibandingkan. Meskipun mengalami penurunan besar, nilai Sulawesi Utara masih tetap berada di atas catatan Kalimantan Tengah sebesar hampir 300 Rp miliar.
Sumatera Selatan
Sumatera Selatan tercatat memiliki nilai 1972,34 Rp miliar pada kuartal terakhir, menempati peringkat 16 secara nasional dan peringkat 5 di wilayah Pulau Sumatera. Sektor ini tumbuh 1,37% dibanding periode sebelumnya, dengan kenaikan nilai sebesar 26,63 Rp miliar. Nilai Sumatera Selatan berada sedikit di bawah catatan Kalimantan Tengah, dengan selisih sekitar 172 Rp miliar. Peringkat nasional Sumatera Selatan berada satu tingkat tepat di bawah Kalimantan Tengah.
Jambi
Jambi mencatatkan nilai 1740,5 Rp miliar untuk sektor transportasi dan pergudangan pada kuartal terakhir, menempati peringkat 17 secara nasional dan peringkat 6 di Pulau Sumatera. Pertumbuhan sektor ini tercatat sebesar 0,73% dibanding kuartal sebelumnya, dengan kenaikan nilai sebesar 12,57 Rp miliar. Nilai ini berada 404 Rp miliar di bawah catatan Kalimantan Tengah, dan merupakan nilai terendah kedua dari seluruh provinsi yang dibandingkan dalam data ini.
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta tercatat memiliki nilai PDRB sektor transportasi dan pergudangan sebesar 1680,08 Rp miliar pada kuartal terakhir, menempati peringkat 18 secara nasional dan peringkat 6 di wilayah Pulau Jawa. Sektor ini tumbuh 0,8% dibanding periode sebelumnya, dengan kenaikan nilai sebesar 13,39 Rp miliar. Nilai ini merupakan yang terendah dari seluruh provinsi yang dibandingkan, berada 464 Rp miliar di bawah catatan Kalimantan Tengah pada periode yang sama.