Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai PDRB ADHB Industri Pengolahan Triwulanan Provinsi Papua Barat pada Kuartal II 2025 sebesar Rp 8.092,4 miliar. Nilai ini sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata tiga kuartal sebelumnya sebesar Rp 7.996,49 miliar, dan juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata lima kuartal sebelumnya sebesar Rp 7.539,62 miliar. Pertumbuhan pada periode ini sebesar 0,59%, yang berada di bawah rata-rata pertumbuhan tiga kuartal sebelumnya sebesar 2,21% namun di atas rata-rata lima kuartal sebelumnya sebesar 1,87%. Kenaikan pertumbuhan tertinggi terjadi pada Kuartal III 2024 sebesar 43,67%, sementara penurunan terendah terjadi pada Kuartal IV 2012 turun 31,31%. Selama lima kuartal terakhir, ranking Papua Barat di pulau Papua tetap berada di posisi pertama, sedangkan ranking se-Indonesia fluktuatif berkisar antara posisi 16 hingga 21, dengan posisi terakhir di Kuartal II 2025 adalah 19.
(Baca: Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTS/Paket B di Sumatera Utara | 2024)
Kalimantan Tengah
Provinsi Kalimantan Tengah menempati ranking ke-3 di pulau Kalimantan dan ke-16 se-Indonesia untuk Nilai PDRB ADHB Industri Pengolahan Triwulanan pada periode terbaru, dengan nilai sebesar Rp 9.943,5 miliar. Nilai ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar Rp 9.799,21 miliar, dengan pertumbuhan sebesar 1,47%. Rata-rata nilai tiga kuartal terakhir Kalimantan Tengah sebesar Rp 9.416,44 miliar, menunjukkan tren peningkatan yang konsisten meskipun dengan laju pertumbuhan yang rendah. Dibandingkan Papua Barat, nilai PDRB Kalimantan Tengah lebih tinggi sebesar Rp 1.851,1 miliar, namun pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Papua Barat pada Kuartal II 2025. Ranking se-Indonesia Kalimantan Tengah juga lebih baik dibandingkan Papua Barat, yang menunjukkan bahwa industri pengolahan di Kalimantan Tengah memiliki skala yang lebih besar meskipun pertumbuhannya lebih lambat. Selisih nilai dengan kuartal sebelumnya sebesar Rp 144,29 miliar, yang menunjukkan bahwa peningkatan nilai pada periode ini tidak terlalu signifikan dibandingkan beberapa periode sebelumnya di provinsi ini.
Kalimantan Selatan
Kalimantan Selatan berada di ranking ke-4 di pulau Kalimantan dan ke-17 se-Indonesia dengan Nilai PDRB ADHB Industri Pengolahan Triwulanan sebesar Rp 8.772,66 miliar. Nilai ini mengalami pertumbuhan sebesar 2,34% dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar Rp 8.572,4 miliar, dengan selisih nilai sebesar Rp 200,26 miliar. Rata-rata nilai lima kuartal terakhir Kalimantan Selatan sebesar Rp 8.503,15 miliar, yang menunjukkan bahwa nilai saat ini berada di atas rata-rata. Dibandingkan Papua Barat, nilai PDRB Kalimantan Selatan lebih tinggi sebesar Rp 680,26 miliar, dan pertumbuhannya juga lebih tinggi sebesar 1,75 poin persen. Ranking se-Indonesia Kalimantan Selatan satu tingkat di atas Papua Barat, yang menunjukkan bahwa industri pengolahan di Kalimantan Selatan lebih berkembang daripada di Papua Barat, baik dari segi skala maupun pertumbuhan pada periode terbaru. Selisih nilai dengan dua kuartal sebelumnya sebesar Rp -21,14 miliar, yang menunjukkan bahwa nilai saat ini sedikit lebih rendah dibandingkan dua kuartal sebelumnya.
Jambi
Provinsi Jambi menempati ranking ke-6 di pulau Sumatera dan ke-18 se-Indonesia dengan Nilai PDRB ADHB Industri Pengolahan Triwulanan sebesar Rp 8.493,04 miliar. Nilai ini mengalami pertumbuhan sebesar 5,94% dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar Rp 8.016,65 miliar, dengan selisih nilai sebesar Rp 476,39 miliar. Rata-rata nilai tiga kuartal terakhir Jambi sebesar Rp 8.214,49 miliar, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan pada periode terbaru cukup signifikan dan melebihi rata-rata. Dibandingkan Papua Barat, nilai PDRB Jambi lebih tinggi sebesar Rp 400,64 miliar, dan pertumbuhannya jauh lebih tinggi sebesar 5,35 poin persen. Ranking se-Indonesia Jambi satu tingkat di atas Papua Barat, yang menunjukkan bahwa industri pengolahan di Jambi sedang mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan Papua Barat pada periode ini. Selisih nilai dengan dua kuartal sebelumnya sebesar Rp 359,82 miliar, yang menunjukkan bahwa nilai saat ini mengalami peningkatan yang cukup besar dibandingkan dua kuartal sebelumnya.
(Baca: PDRB ADHK Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum di Riau | 2025)
Sumatera Barat
Sumatera Barat berada di ranking ke-7 di pulau Sumatera dan ke-20 se-Indonesia dengan Nilai PDRB ADHB Industri Pengolahan Triwulanan sebesar Rp 7.291,58 miliar. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 1,21% dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar Rp 7.380,64 miliar, dengan selisih nilai sebesar Rp -89,06 miliar. Rata-rata nilai lima kuartal terakhir Sumatera Barat sebesar Rp 7.206,89 miliar, yang menunjukkan bahwa nilai saat ini masih di atas rata-rata meskipun mengalami penurunan. Dibandingkan Papua Barat, nilai PDRB Sumatera Barat lebih rendah sebesar Rp 800,82 miliar, dan pertumbuhannya juga negatif dibandingkan pertumbuhan positif Papua Barat. Ranking se-Indonesia Sumatera Barat satu tingkat di bawah Papua Barat, yang menunjukkan bahwa industri pengolahan di Papua Barat lebih berkembang daripada di Sumatera Barat pada periode terbaru. Selisih nilai dengan dua kuartal sebelumnya sebesar Rp 215,9 miliar, yang menunjukkan bahwa nilai saat ini masih lebih tinggi dibandingkan dua kuartal sebelumnya meskipun mengalami penurunan pada kuartal terakhir.
Kepulauan Bangka Belitung
Kepulauan Bangka Belitung menempati ranking ke-8 di pulau Sumatera dan ke-21 se-Indonesia dengan Nilai PDRB ADHB Industri Pengolahan Triwulanan sebesar Rp 6.173,56 miliar. Nilai ini mengalami pertumbuhan sebesar 5,93% dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar Rp 5.827,91 miliar, dengan selisih nilai sebesar Rp 345,65 miliar. Rata-rata nilai tiga kuartal terakhir Kepulauan Bangka Belitung sebesar Rp 6.000,4 miliar, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan pada periode terbaru cukup signifikan dan melebihi rata-rata. Dibandingkan Papua Barat, nilai PDRB Kepulauan Bangka Belitung lebih rendah sebesar Rp 1.918,84 miliar, meskipun pertumbuhannya jauh lebih tinggi sebesar 5,34 poin persen. Ranking se-Indonesia Kepulauan Bangka Belitung dua tingkat di bawah Papua Barat, yang menunjukkan bahwa skala industri pengolahan di Papua Barat lebih besar meskipun pertumbuhannya lebih lambat pada periode ini. Selisih nilai dengan dua kuartal sebelumnya sebesar Rp 191,1 miliar, yang menunjukkan bahwa nilai saat ini mengalami peningkatan yang cukup besar dibandingkan dua kuartal sebelumnya.
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta menempati ranking ke-6 di pulau Jawa dan ke-22 se-Indonesia dengan Nilai PDRB ADHB Industri Pengolahan Triwulanan sebesar Rp 6.148,2 miliar. Nilai ini mengalami pertumbuhan sebesar 0,65% dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar Rp 6.108,29 miliar, dengan selisih nilai sebesar Rp 39,91 miliar. Rata-rata nilai lima kuartal terakhir DI Yogyakarta sebesar Rp 6.003,15 miliar, yang menunjukkan bahwa nilai saat ini berada di atas rata-rata. Dibandingkan Papua Barat, nilai PDRB DI Yogyakarta lebih rendah sebesar Rp 1.944,2 miliar, dan pertumbuhannya sedikit lebih tinggi sebesar 0,06 poin persen. Ranking se-Indonesia DI Yogyakarta tiga tingkat di bawah Papua Barat, yang menunjukkan bahwa skala industri pengolahan di Papua Barat jauh lebih besar dibandingkan DI Yogyakarta pada periode terbaru. Selisih nilai dengan dua kuartal sebelumnya sebesar Rp 264,5 miliar, yang menunjukkan bahwa nilai saat ini mengalami peningkatan dibandingkan dua kuartal sebelumnya meskipun pertumbuhan pada kuartal terakhir sangat kecil.